Minggu, 11 Agustus 2024

Laporan Pendampingan individu 4 Guru Penggerak




 A. LATAR BELAKANG

Guru Penggerak merupakan program pendidikan dari pemerintah untuk meningkatkan kompetensi guru, selain itu hadirnya guru penggerak diharapkan mampu menggerakkan komunitas belajar. Prinsip program adalah mendorong upaya peningkatan kualitas pendidikan di sekolah maupun diluar sekolah menggunakan pendekatan andragogi dan blended learning. Dengan menggunakan dua metode yang tadi dijelaskan, nantinya guru yang terdaftar di dalam program ini mereka juga harus mengikuti proses pembelajaran.

Model pembelajaran yang tertuang adalah menggunakan metode pelatihan dalam jaringan atau belajar daring, lokakarya, dan pendampingan individu.

Terdiri dari 70% pengajar bekerja di sekolah, 20% bersama sesama pengajar, dan 10% bersama narasumber, fasilitator, dan pengajar praktik. Pendampingan dilakukan secara individu di sekolah CGP dan pendampingan kelompok melalui kegiatan lokakarya. Pendampingan individu bertujuan untuk membantu CGP menerapkan hasil pembelajaran daring sehingga CGP mampu:

  1. Mengembangkan diri sendiri dan juga guru lain dengan cara melakukan refleksi, berbagi, dan kolaborasi;
  2. Memiliki kematangan moral, emosional, dan spiritual untuk berperilaku sesuai kode etik; dan
  3. Merencanakan, menjalankan, merefleksikan, dan mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan melibatkan orang tua.
Sedangkan pendampingan melalui lokakarya bertujuan untuk:
  1. meningkatkan keterampilan CGP untuk menjalankan perannya;
  2. menjejaringkan CGP di tingkat kabupaten/kota;
  3. menjadi ruang diskusi dan pemecahan masalah yang dihadapi oleh CGP; dan
  4. meningkatkan keterlibatan pemangku kepentingan di tingkat sekolah dan kabupaten/kota.

Laporan pelaksanaan pendampingan Individu dan lokakarya pendidikan guru penggerak dilaksanakan dengan baik dan terarah, maka perlu dilakukan fungsi kontrol sebagai bahan laporan yang akan digunakan oleh BBGP/BGP sebagai bentuk pertanggung jawaban aktivitas pendampingan individu dan lokakarya.

Tujuan kegiatan pendampingan individu 4 adalah membantu Calon Guru Penggerak menerapkan hasil pembelajaran daring dan lokakarya sehingga Calon Guru Penggerak mampu :

  1. mengembangkan diri sendiri dan juga guru lain dengan cara melakukan refleksi, berbagi, dan kolaborasi;
  2.  memiliki kematangan moral, emosional, dan spiritual untuk berperilaku sesuai kode etik; dan 
  3. merencanakan, menjalankan, merefleksikan, dan mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan melibatkan orang tua

Sedangkan fokus pendam pingan pada PI 4 ini yakni:

  • Observasi kelas CGP untuk melihat penerapan modul budaya positif,pembelajar anperbedaan sidanpembelajar ansosial-emosional .
  • Penilaian Observasi Praktik Pembelajaran

C.   INDIKATOR KEBERHASILAN

Indikator keberhasilan dari kegiatan pendampingan individu 4 adalah sebagai berikut:

  1. GP mampu merefleksikan diri dalam mengikuti proses pembelajaran secara daring sebulan terakhir;
  2. GP mampu menerapkan budaya positif, pembelajaran berdiferensiasi dan sosial emosional dalam proses pembelajaran di kelas;
  3. CGP mampu merumuskan pengembangan diri ke depan sesuai umpan balik pasca-observasi
D. SASARAN

Sasaran pelaksanaan pendampingan individu 4  program Guru Penggerak adalah unsur-unsur yang terkait dengan pelaksanaan pendampingan individu, adalah sebagai berikut:

1.      Sasaran ke 1 adalah Calon Guru Penggerak

2.      Sasaran ke 2 adalah Kepala Sekolah

E. PELAKSANAAN

Pelaksanan pendampingan Individu 4 di Wilayah Sasaran pengajar praktik yang bertugas ini diselenggarakan secara tatap muka (luring) pada tanggal 15 s/d 23 Agustus  2024


No

Nama

Alamat

Kab./Kota

Provinsi

1

Puk’ati

SD Negeri 2 Doropayung

Rembang

Jawa Tengah

2

Dwi Satrio Bagus Tumeko

SD Negeri 3 Pamotan

Rembang

Jawa Tengah

3

Cicik Devi Yohana

SMP Negeri 2 Pancur

Rembang

JawaTengah

4

Dandiyu Seno

SD Negeri Samaran

Rembang

Jawa Tengah

5

Heni Triwahyuni

SMP Negeri 1 Pancur

Rembang

Jawa Tengah

6

Siwi Widyastuti

SD Negeri 1 Ukir

Rembang

Jawa Tengah

 F. PIHAK TERKAIT

Pihak yang terkait pada pelaksanaan pendampingan individu 4  adalah sebagai berikut

No

Nama

Jabatan

Satker

Keterangan

1

Legiman

Kepala Sekolah

SD Negeri 2 Doropayung

22 Agustus 2024

2

Suhadi, S.Pd., SD

Kepala Sekolah

SD Negeri 3 Pamotan

15 Agustus 2024

3

Walida Wahid

Kepala Sekolah

SMP Negeri 2 Pancur

21 Agustus 2024

4

Purnoto

Kepala Sekolah

SD Negeri Samaran

16 Agustus 2024

5

Basori

Keala Sekolah

SMP Negeri 1 Pancur

20 Agustus 2024

6

Abdullah Syukur

Kepala Sekolah

SD Negeri 1 Ukir

19 Agustus 2024

 G. DESKRIPSI PELAKSANAAN PENDAMPINGAN

Pola pendampingan individu 4 dilaksanakan secara luring dimana Pengajar Praktik atau pendamping berkunjung ke sekolah Calon Guru Penggerak yang didampingi, dan dalam hal ini pendamping mempunyai 6 orang calon Guru Penggerak. Pendampingan dilaksanakan mulai tanggal 15 Agustus 2024 sampai dengan 23 Agustus  2024. Pendampingan dilaksanakan dengan situasi yang nyaman, santai dan terarah serta terukur sesuai dengan moderasi yang telah disiapkan. 

Bagian Awal Pendampingan (20’)

  1. Menjelaskan tentang fokus pendampingan, 
  2. Pengajar Praktik menanyakan apa saja proses yang sudah berjalan selama satu bulan terakhir, menanyakan rencana tindak lanjut dari pendampingan sebelumnya, serta hal-hal yang dianggap sebagai capaian selama satu bulan terakhir (berdasarkan Jurnal Pemanatauan Pembelajaran Daring)
  3. Mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih telah berbagi praktik baik yang sudah dilakukan dari pembelajaran daring.
  4. Pengajar Praktik memastikan RPP yang dibuat CGP sudah direvisi berdasarkan masukan yang diberikan PP.
  5. Menyiapkan lembar Observasi Praktik Mengajar Calon Guru Penggerak (Lampiran 5).


Bagian Inti Pendampingan (135’)

a. Ketentuan

  1. Observasi pembelajaran dilakukan di kelas CGP baik secara luring 
  2. Observasi dilakukan minimal 2 (dua) jam pelajaran dengan durasi menit disesuaikan dengan jenjang sekolah.

b. Pra- Observasi (15’)

Percakapan pra-observasi ini berlangsung selama 15 menit, Adapun yang harus dilakukan oleh supervisor adalah:Supervisor menyampaikan tujuan besar supervisi dan tujuan dari percakapan awal.

  1. Guru menyampaikan rancangan pelaksanaan pembelajaran dan menginformasikan aspek perkembangan yang hendak diobservasi
  2. Supervisor dan guru menyepakati sasaran observasi, waktu kunjungan kelas dan waktu percakapan pasca-observasi
  3. Supervisor menginformasikan bahwa ia akan mencatat kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru di kelas
  4. Percakapan pra-observasi baiknya berlangsung dengan suasana santai dan kekeluargaan dan dengan semangat positif. Hasil percakapan pra-observasi dicatat pada Lampiran 4.

c. Observasi Pembelajaran (90’) 

Pengamatan oleh supervisor menggunakan instrumen yang telah ditentukan sebelumnya dan fokus pada sasaran yang sudah disepakati (lihat hasil catatan pada lampiran 4). Namun dapat saja pada saat observasi ada hal-hal menarik di luar hal yang sudah disepakati yang ditemukan oleh supervisor (PP) yang dapat bermanfaat bagi guru dalam pengembangan kompetensi dirinya sebagai pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid. 

Hal-hal yang harus diperhatikan saat observasi pembelajaran:

  1. Saat observasi, PP tidak boleh menganggu proses pembelajaran atau ikut membantu CGP dalam pembelajaran. PP hanya melakukan pengamatan, apakah sudah sesuai dengan perangkat yang sudah dibuat dan materi modul yang sudah dipelajari yaitu sudah menerapkan budaya positif, pembelajaran berdiferensiasi pembelajaran sosial-emosional dan budaya positif.
  2. Pencatatan aktivitas pembelajaran dilakukan pada lembar Observasi Praktik Mengajar Calon Guru Penggerak (Lampiran 5)

f. Pasca Observasi (30’)

Dalam proses percakapan pasca-observasi ini, supervisor (PP) dan guru (CGP) secara bersama memahami tujuan percakapan dan saling percaya akan tahapan kegiatan yang berlangsung.  Percakapan pasca-observasi  berisikan aktivitas berikut:
  1. Menyampaikan tujuan percakapan dan hasil analisis data observasi kepada CGP
  2. Melakukan percakapan umpan balik. Dalam percakapan PP menemukan area pengembangan dan perbaikan diri yang hendak dilakukan. Catat hasil umpan balik pada lampiran 6 .
  3. Percakapan perencanaan area pengembangan
  4. Rencana aksi pengembangan diri. Hasil perencanaan aksi pengembangan diri dicatat pada lampiran 7.

Bagian akhir pendampingan (15’)

a. Melakukan refleksi terhadap proses pendampingan saat ini:

  • Apa yang sudah baik dan yang perlu Bapak/Ibu perbaiki ke depannya pada pembelajaran tadi?
  • Sejauh apa pendampingan saat ini membantu Bapak/ Ibu mengimplementasikan pembelajaran yang berpihak kepada murid? Hal-hal apa saja yang perlu diperbaiki untuk ke depannya?

b. Jika ada hal-hal terkait pembelajaran daring yang perlu diketahui oleh fasilitator, maka perlu dicatat dalam Jurnal Komunikasi di LMS.

c. Mengingatkan CGP untuk menyiapkan diri untuk pendampingan individu 5.

Aktivitas persiapan:

o Kelengkapan bahan yang harus disiapkan CGP untuk PI 5 adalah:

  1. Mengajak satu orang rekan sejawat untuk dibimbing dan dicoaching pada PI 5.
  2. Penetapan jadwal observasi pembelajaran. Pelaksanaan observasi pembelajaran minimal 2 jam pelajaran dan dapat dilakukan secara daring ataupun luring (disesuaikan dengan kebijakan sekolah)
  3. Membimbing rekan sejawat dalam menyusun RPP dan juga melakukan koreksi terhadap RPP yang disusun. Hasil koreksiksi CGP dijadi dasar perbaikan RPP oleh rekan sejawat.

o Aktivitas Coaching untuk supervisi akademik

Untuk melakukan aktivitas ini, CGP harus mengikuti instruksi yang ada dalam modul 2.3 pada bagian aksi nyata. Pastikan CGP melakukan:

  • Proses pra-observasi. Hasil catatan saat proses ini diserahkan kepada PP saat pendampingan individu 5 (CGP menggunakan instrument pra-observasi di modul 2.3)
  • Proses observasi pembelajatan.  Hasil catatan saat proses ini diserahkan kepada PP saat pendampingan individu 5 (CGP menggunakan instrument observasi pembelajaran di modul 2.3)
  • Setiap aktivitas CGP saat melakukan pra-observasi dan observasi pembelajaran, PP tetap melakukan pemantauan dan diskusi melalui WA/HP/tatap muka virtual. 


H. EVALUASI

Evaluasi yang dilakukan pada pelaksanaan pendampingan Pendampingan individu 4 ini adalah,

a. Permasalahan yang muncul

Pada saat pendampingan individu 4 ini tidak ada permasalahan yang berat yang muncul dari 6 CGP. Memiliki permasalahan yang sama yaitu bagaimana memanajemen waktu sehingga semua dapat berjalan sesuai waktu dan rencana, adanya rasa kurang percaya diri karena merasa diawasi oleh supervisor.

b. Rekomendasi dan saran dari Pengajar Praktik

Atas semua permasalahan  yang dialami oleh calon guru penggerak diatas, sebagai pendamping saya merekomendasikan beberapa alternatif seperti pada permasalahan manajemen waktu saya menyarankan agar calon guru penggerak untuk selalu fokus pada materi dan langkah-langkah/ skenario pembelajaran yang ada pada RPP atau modul ajar. Sementara yang berkaitan dengan rasa tidak percaya diri karena merasa diawasi karena belum terbiasa dengan supervisi akademik yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan guru, perlu pergeseran sudut pandang antara peningkatan kapasitas dan mencari kelemahan guru, baik dari guru maupun supervisor.

I. PENUTUP

Laporan pelaksanaan pendampingan individu 4 ini diharapkan menjadi bahan informasi untuk evaluasi dan control pelaksanaan pendampingan individu maupun lokakarya Program Pendidikan Guru Penggerak (PGP). Informasi yang didapatkan merupakan bahan tindak lanjut bagi pemangku kebijakan, penyelenggara serta pihak-pihak lain untuk tercapainya tujuan dari program.


Rabu, 29 November 2023

Komunitas Belajar di Sekolah (KBS)

a. Latar Belakang 

SD Negeri 1 Bangunrejo adalah satu dari dua Sekolah Dasar yang ada di Desa Bangunrejo. Berada ditepi jalan raya provinsi yang menghubungkan Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadikan sekolah ini mudah dalam aksesibilitas. Dengan berbagai jenis mata pencaharian orang tua/wali murid, mengharuskan menejemen sekolah selalu senantiasa tanggap dengan perkembangan pengetahuan yang ada dimasyarakat agar tidak ketinggalan informasi.

Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran diperlukan kesatuan visi antara Kepala Sekolah, guru dan tenaga kependidikan. Persamaan visi peningkatan pembelajaran ini bisa dicapai dengan dibentuknya Komunitas Belajar Sekolah (KBS). Komunitas belajar Sekolah adalah tempat terjalinnya kerjasama antar guru dan tenaga kependidikan. Guru dapat belajar, guru pun menyepakati standar bersama seperti pembelajaran efektif, kriteria/indikator penilaian. Guru sepakat bahwa mendidik semua murid merupakan tanggung jawab Bersama. Komunitas Belajar sekolah membrikan ruang untuk saling  berbagi sesame pendidik, sehingga tidak ada legi kesenjangan keterampilan sesame pendidik. Karena didalamnya terjadi interaksi saling isi dan melengkapi terhadap kekurangan yang ada.

Pada kesempatan tertentu pembincangan mengenai pembelajaran dikelas sudah disampaikan oleh guru, misalnya pada saat-saat istirahat atau pada rapat sekolah, namun kegiatan ini sifatnya temporer dan tidak terjadwal dengan jelas, sehingga perlu dibentuk sebuah Komunitas Belajar Sekolah.

b. Tujuan

Keberadaan Komunitas Belajar Sekolah bertujuan untuk :  a) memberi motivasi belajar bagi guru untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar murid, b) memberikan kesempatan bagi semua guru untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Guru dapat belajar dari hasil belajar dalam komunitas dan segera menerapkannya di kelas masing-masing untuk memfasilitasi pembelajaran yang berkualitas, c) melatih keterampilan sosial, seperti berkomunikasi dan bersosialisasi dengan rekan sejawat d) meningkatkan kemampuan dan profesionalisme mengajar, e) meminimalisir ketimpangan kompetensi antar guru.

c. Rencana Kegiatan

Melihat betapa pentingnya keberadaan Komunitas Belajar di Sekolah maka saya segera membentuk KBS ini, karena komunikasi tentang pembelajaran ini sebenarnya sudah ada dan tinggal mengoptimalkan fungsinya. Pada Hari Sabtu setiap minggunya saya akan mengadakan pertemuan dengan guru dan tenaga kependidikan di sekolah. Kenapa Sabtu? Alasannya adalah selama lima hari sebelumnya guru akan menginventarisir kekurangan dan kelebihan proses pembelajaran yang dilakukan untuk disampaikan pada pertemuan komunitas pada Sabtunya. Selanjutnya pada akhir bulan ini saya akan mengundang Komite Sekolah untuk memberi masukan dan saran terhadap hasil pembelajaran yang sudah berjalan selama ini, dan secara periodik triwulan kami akan mengundang Komite Sekolah.

d. Aset Yang dimiliki Sekolah

SD Negeri 1 Bangunrejo memiliki 11 guru dan 1 tenaga kependidikan, dan 1 Kepala Sekolah, dengan 2 orang Guru Penggerak, dan komite Sekolah yang peduli terhadap kemajuan pembelajaran akan memudahkan ketercapaian tujuan pembelajaran melalui Komunitas Belajar Sekolah. Peran guru penggerak selama ini sangat membantu pergerakan perubahan dengan memaksimalkan potensi asset yang ada di sekolah, termasuk aset yang berhubungan dengan mata Pelajaran PJOK.

e. Indikatior Keberhasilan KBS

Komunitas Belajar Sekolah berjalan dengan baik jika antara guru saling memberikan gambaran pembelajaran dari kelas masing-masing dan siap untuk menerima masukan perbaikan dari guru lainnya dan selanjutnya menerapkan dikelasnya, dan menyampaikan kembali hasil pembelajaran pada pertemuan selanjutnya.

f. Komunitas Belajar dan Mapel PJOK

Mata pelajaran PJOK adalah mapel lintas kelas sehingga sangat adanya kerjasama yang baik dengan masing-masing guru kelas. Sehingga sebagai guru PJOK saya mengetahui karakter siswa di masing-masing kelas untuk menyesuaikan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan belajar. Dan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sangat diperlukan untpan balik dari masing-masing guru kelas. Dari sinilah saya selalu memotivasi betapa pentingnya keberadaan komunitas belajar, tidak hanya untuk mapel PJOK  secara khusu tetapi untuk peningkatan kualitas pembelajaran secara umum untuk mewujudkan pembelajaran yang benar-benar berpihak kepada siswa.


Sabtu, 25 November 2023

Model Refleksi Situasi, Makna , Aksi

 



a. Tahap Situasi

    Mempelajari modul 3. Komunitas Belajar Sekolah memberikan banyak gambaran tentang bagaimana pentingnya komunitas belajar yang ada disekolah. Beberapa catatan saya mengenai komunitas belajar dari modul ini adalah sebuah wahana yang digunakan untuk saling berbagi mengenai pembelajaran, membahas mengenai kekurangan dan kelebihan sehingga didapatkan solusi terbaik untuk pembelajaran yang lebih baik.

    Kegiatan saling berbagi ini pada faktanya sudah berjalan, namun belum tercatat sebagai sebuah komunitas untuk memeahkan masalah pembelajaran, sehingga pelaksanaanya bersifat momental  tidak terencana secara periodik. Komunitas belajar sebenarnya bukanlah hal baru, karena sudah ada KKG atau MGMP hanya ada perbedaan pada istilahnya saja.

    Komunitas belajar di sekolah menjadi bagian penting dalam sekolah, karena komunitas belajar sebuah tempat terjalinnya kerjasama antar guru dan tenaga kependidikan. Guru dapat belajar bersama (tidak terisolasi), guru pun menyepakati standar bersama seperti pembelajaran efektif, kriteria/indikator penilaian. Guru Sepakat bahwa mendidik semua murid merupakan tanggung jawab bersama. Dengan adanya komunitas belajar di sekolah, kesenjangan keterampilan antar pendidik dapat diminimalisasi, sehingga murid memiliki kualitas pengalaman belajar yang sama terlepas dari siapapun pendidiknya . 

Hal sulit yang saya hadapi adalah disekolah saya mempunyai enam kelas dengan jenjang yang berbeda, sudah barang tentu masing-masing kelas mempunyai cara mengajar yang berbeda karena harusmenyesuaikan tingkat usia dan cara berfikir peserta didik yang berbeda pula yang sudah barang tentu cara mengajar guru satu dengan yang lain mempunyai perbedaan. Berada pada kondisi seperti ini peran saya sebagai motivator agar masing-masing guru untuk saling berbagi agar saling asah,isi dan asuhsehingga tidak ada guru yang merasa terbebani masalah pembelajaran dikelasnya. Mengajak rekan sejawat untuk senantiasa menyatukan visi menciptakan pembelajran yang berpihak kepada murid, sehingga cita-cita dan harapan sesuai dengan visi dan misi sekolahbisa tercapai.

b. Tahap Makna

 Dalam kondisi seperti ini saya mencoba menjelaskan mengenai pentingnya komunitas belajar di sekolah, dibentuk sebuah wadah untuk saling memberi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga semakin menumbuhkan minat belajar murid. Juga sebagai wadah untuk saling mendukung, berbagi pengetahuan, dan meningkatkan kualitas pembelajaran, dapat melatih keterampilan sosial, seperti berkomunikasi dan bersosialisasi dengan rekan sejawat. Hal ini dapat membantu guru dalam membina hubungan yang baik dengan murid dan orang tua murid

Dari pengamatan saya selama ini guru cenderung untuk menyimpan sendiri permasalahan yang ada dikelasnya, karena bercerita tentang kelemahan merupakan hal yang harus tabu untuk dilakukan. Disini saya harus memahami karakter masing-masing guru sehingga dapat mengambil benang merah yang bisa menarik kesamaan yang ada sehingga bisa terikat menjadi satu kesatuan untuk mencapai visi pembelajaran yang berpihak kepada murid. Pada situasi ini akhirnya saya memahami bahwa kelemahan diri tidak dapat diketahui sepenuhnya oleh diri sendiri tetapi melalui refleksi dan umpan balik yang diberikan oleh orang lain. Demikian juga solusi untuk mengatasi kekurangan yang ada. Semakin banyak masukan maka akan semakin baik pula hasilnya.

c. Tahapan Aksi

    Dari beberapa kesimpulan yang saya dapatkan, akhirnya saya menyadari bahwa kegiatan pembelajaran di sekolah akan lebih optimal jika guru dapat berkolaborasi dengan guru lainnya. Kemitraan ini diciptakan untuk memberikan suasana belajar bersama di mana ada rasa saling ketergantungan, serta pengakuan bahwa belajar dan keberhasilan murid  adalah tanggung jawab semua guru dan tenaga kependidikan. Mengingat hal yang demikian maka saya memulai untuk memberikan makna yang sebenarnya tentang Komunitas Belajar di Sekolah. 

    Tindakan yang saya lakukan selanjutnya adalah mengajak rekan guru secara periodik dan terjadwal untuk mengadakan pertemuan untuk mebahas permasalahan pembelajaran yang ada di kelas masing-masing. Saya mulai dengan menceritakan pembelajaran yang saya lakukan, tentang kesulitan, tantangan, dan solusi yang saya lakukan, dan selanjutnya meminta masukan dari rekan sejawat. Dari saran dan masukan yang mereka berikan, saya berharap mereka akan terbuka juga untuk menceritakan proses pembelajaran yang dilakukannya sehingga terjadi interaksi dan komunikasi yang serasi. 

    Sebuah perubahan pasti ada tantangan, dan sebagai agen transformasi perubahan saya harus membekali diri dengan inovasi-inovasi baru yang menarik. Melalui komunitas guru penggerak saya selalu berkomunikasi dan berbagi praktik baik, juga belajar mandiri melalui platform Merdeka Mengajar. Selalu ada hal-hal baru disana yang bisa saya aplikasikan pada pembelajaran disekolah. Disini saya harus menjadi contoh untuk perubahan baik, karena jika tidak maka komunitas belajar di sekolah tidak menjadi hal yang menarik.

    Akhirnya saya berkesimpulan bahwa kolaborasi tidak hanya terbatas pada kegiatan tukar menukar dan sharing praktik baik mengajar tetapi juga dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas masing-masing. Saling membantu, terbuka dalam memecahkan masalah bersama harus menjadi kebiasaan sehari-hari. Perkembangan akademik murid bukan lagi menjadi tanggung jawab individu masing-masing pendidik, tetapi menjadi tanggung jawab bersama yang harus diupayakan secara berkesinambungan sehingga tercipta budaya positif di sekolah untuk pembelajran yang sebenarnya, dan benar-benar berpihak kepada kebutuhan belajar murid. 


Minggu, 09 April 2023

Koneksi Antar Materi Modul 1.4. Budaya Positif

 


Setiap sekolah mempunyai peraturan dan tata tertib yang tujuannya adalah menegakkan disiplin supaya anggota sekolah menaati tata tertib yang telah dibuat. Tata tertib dibuat dalam rangka sebagai fungsi control warga sekolah dalam pemenuhan kebutuhan dasar warga sekolah agar tidak berbenturan antara satu dengan yang lainnya.

Upaya penegakan disiplin di sekolah selalu berujung pada hukuman dan konsekwensi

Dr. William Glasser dalam Control Theory meluruskan pemahaman tentang  konsep Kontrol diantaranya adalah bahwa guru sebenarnya tidak bisa mengontrol perilaku murid, dan jika pada saat tertentu murid berbuat sesuatu atas perintah guru karena pada saat itu murid sedang mengijinkan dirinya untuk dikontrol

 Mengontrol murid dengan penguatan positif berupa bujukan, membuat kritik sehingga murid merasa bersalah, dan guru memiliki hak untuk memaksa adalah keberhasilan jangka pendek dan berakibat buruk pada jangka panjang karena kontrol yang dilakukan guru bertentangan dengan kebutuhan dasar manusia,yang akan membentuk sebuah hubungan permusuhan dan identitas gagal bagi murid.

Nilai kedisiplinan positip yang diterapkan disekolah adalah bentuk kontrol diri agar mencapai tujuan mulia yang memuat nilai-nilai kebajikan universal, yang diyakini bersama dalam rangka mencapai profil pelajar pancasila.

Nilai-nilai yang dimiliki oleh guru penggerak akan memperkuat peran  guru penggerak (modul1.2) dalam mewujudkan budaya positif disekolah. Filosofi dasar pemikiran KHD (1.1) digunakan sebagai kontrol perilaku murid, karena murid pada dasarnya sudah mempunyai keyakinan sendiri yang memerlukan pendampingan guru agar keyakinan diri tersebut  menjadi keyakinan yang universal sebagai dasar pencapaian visi guru penggerak(1.3)

Penerapan disiplin positif (1.4) dengan segitiga restitusi menguji seorang guru untuk betul-betul mampu menerapkan peran dan fungsi guru penggerak. 

Segitiga restitusi menjadikan siswa sebagai pribadi yang dihargai jati dirinya karena murid berkesempatan untuk memperbaiki kesalahan  yang dilakukannya dengan keyakinan yang dimiliki dan sesuai dengan kebajikan universal.

Untuk mencapai visi mewujudkan profil pelajar Pancasila harus dibarengi dengan lingkungan yang berbudaya positif. Menciptakan budaya positif dengan mendorong motivasi dari dalam diri murid akan lebih baik walaupun memerlukan proses panjang dari pada memberi motivasi dengan hadiah atau hukuman.

Modul 1.4 ini membawa pemahaman yang berlaku selama ini bahwa untuk menciptakan budaya positif diperlukan dorongan berupa pujian, hadiah, bahkan kritik agar murid lebih termotivasi lebih baik, dan pemberian hukuman sebagai konsekuensi dari  sebuah pelangaran. Ternyata hal tersebut dalam jangka panjang akan menjadikan murid ketergantungan dan membentuk pribadi yang gagal.

 Segitiga restitusi membuat saya menyadari bahwa sesuai dengan filosofi KHD setiap murid mempunyai keyakinan dan disinilah peran guru untuk menuntun murid menuju keyakinan universal agar murid benar-benar menemukan jatidirinya menjadi pribadi yang benar-benar utuh.

Sebuah contoh kasus ketika seorang murid laki-laki dengan sengaja memegang pipi guru perempuan didepan teman-temannya. Tentu hal yang seharusnya tidak dilakukan. Murid melakukan ini mungkin tidak menyadari bahwa hal tersebut tidak sepantasnya dilakukan.

Mengetahui hal yang demikian tentu saya harus mengambil tindakan agar murid menyadari hal tersebut. Saya mencoba menerapkan tahapan-tahapan yang ada dalam segitiga restitusi. Memang membutuhkan waktu yang lama untuk menggali keyakinan murid tersebut. Menuntun dalam sistem among sangat tepat, dorongan dan alasan apa yang membuat murid melakukan perbuatannya, selanjutnya diarahkan kepada tindakan yang mengacu pada kebenaran umum, dan akhirnya murid menyadari bahwa tindakannya tidak seharusnya dilakukan dan ada keinginan untuk memperbaiki kesalahan.

Dari pengalaman ini ternyata kesalahan tidak harus diakhiri dengan hukuman seperti yang selama ini saya lakukan. Pada kasus-kasus tertentu tanpa sadar dalam penanganan kasus sampai pada validasi tindakan yang salah namun ketika murid menyadari kesalahannya masih berakhir pada hukuman atau konsekuensi dengan tujuan murid tidak lagi mengulangi kesalahannya.

Penerapan budaya positif pada modul 1.4 ini memberi perubahan cara berfikir yang segnifikan, disiplin tidak harus dengan pujian atau hukuman karena akan menimbulkan efek negatif dalam jangka panjang. Lima posisi kontrol dari Diane Gossen menjadi referensi penting dalam penerapan disiplin positif dan diakhiri dengan segitiga restitusi.

Pertanyaannya adalah apa yang harus saya lakukan kedepan?

Budaya positif wajib tercipta dalam sekolah maupun masyarakat. Pemahaman tentang disiplin, hukuman, konsekwensi untuk guru dan orang tua perlu ditinjau kembali. Sebagai guru penggerak saya harus mempu mengajak rekan guru untuk menerapkan budaya positif dengan menerapkan segitiga restitusi, serta sosialisasi kepada orang tua murid pada saat rapat wali murid di sekolah.

Semoga kedepan semua warga sekolah nyaman dalam iklim pembelajaran dengan nilai kebajikan yang diyakini Bersama menuju terwujudnya merdeka belajar dan profil pelajar Pancasila.


Sabtu, 18 Maret 2023

Koneksi Antar Materi Modul 3.3 Pengelolaan Program Yang Berdampak Pada Murid

     


Mempelajari modul ini memberi banyak memberikan pengetahuan baru tentang bagaimana, menyusun sebuah kegiatan yang berdampak pada murid. Selama  ini,  sering sekali kita melihat bahwa program-program sekolah, hanya  menempatkan  murid-murid  sebagai  objek  dari  program-program  tersebut.  Keterlibatan murid hanya    karena   sebuah  keharusan  untuk  terlibat,  rutinitas,  kewajiban  yang  harus  dijalankan,  atau  hanya  sekedar  sebuah  kegiatan  yang  menyenangkan untuk dilakukan. Padahal, kita semua tahu bahwa pengambilan makna  adalah esensi dari proses belajar itu sendiri. Pada modul ini saya mengenal student agency yang diartikan sebagai kepemimpinan murid dalam pengelolaan program sekolah. Mendorong  kepemimpinan murid dalam program sekolah menjadikan murid menjadi  individu  yang  lebih  bertanggungjawab,  berdaya,  dan  kontributif,  akan  memberikan  bekal untuk mereka menjadi seorang pembelajar sepanjang hayat,

Hal penting yang saya dapatkan dari mempelajari modul ini adalah adanya pemahaman baru tentang :

  1. Kepemimpinan  murid  (students  agency)  dan  kaitannya  dengan  Profil  Pelajar Pancasila
  2. Suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) murid dalam konsep kepemimpinan murid.
  3. Lingkungan yang mendukung tumbuhkembangnya kepemimpinan murid pentingnya  melibatkan  komunitas  untuk  mendukung  tumbuhnya  kepemimpinan murid.

a) Kepemimpinan murid

Secara alami murid adalah pengamat, penjelajah, penanya, yang memiliki rasa ingin tahu untuk membangun sendiri pemahaman tentang diri, orang lain, lingkungan sekitar, dan dunia yang lebih luas, karena sebenarnya berkemampuan untuk mengambil bagian dari proises belajarnya sendiri sehingga potensi kepemimpinannya berkembang dengan baik.

b) Menumbuhkan kepemimpinan Murid

Melalui Suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) murid akan mengembangkan kapasitasnya menjadi pemilik bagi proses belajarnya sendiri. Melalui suara (voice) murid akan mengeksporesikan gagasan melalui partisipasi aktifnya dikelas, sekolah, komunitas, dan lingkungan dimana mereka berada. Sedangkan pilihan (choice)  adalah memberi kesempatan kepada murid untuk memiliki pilahan sesuai dengan minat, memilih lingkungan belajar, pilihan untuk berlatih dalam penguasaan pengetahuan dalam pembelajaran. Sedangkan kepemilikan (ownership) adalah bagaimana murid memiliki rasa keterhubungan, keterlibatan aktif, dan investasi pribadi dalam proses belajar.

c) Lingkungan untuk tumbuhkembang murid

Karakteristik lingkungan yang dapat menumbuhkembangkan kepemimpinan murid (Noble et al (2008) adalah :

  1. Lingkungan yang menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan  emosi  yang  positif.
  2. Lingkungan yang mengembangkan  keterampilan berinteraksi sosial  secara positif, arif dan bijaksan
  3. Lingkungan yang melatih  keterampilan yang dibutuhkan  murid dalam proses  pencapaian tujuan  akademik  maupun  non-akademiknya
  4. Lingkungan  yang  melatih  murid  untuk  menerima  dan  memahami  kekuatan  diri,  sesama, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya
  5. Lingkungan yang membuka wawasan murid agar dapat  menentukan dan menindaklanjuti  tujuan, harapan atau mimpi  yang manfaat dan kebaikannya  melampaui pemenuhan kepentingan  individu, kelompok, maupun golongan
  6. Lingkungan yang menempatkan murid sedemikian rupa sehingga terlibat aktif dalam proses  belajarnya sendiri.
  7. Lingkungan yang menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh  murid untuk terus bangkit  di tengah kesempitan dan kesulitan

Aksi Nyata Modul 3.3 Pengelolaa Program Yang berdampak Pada Murid


Selain lingkungan yang dapat membantu tumbuhkembang murid, peran komunitas juga mengambil peran penting. Beberapa komunitas yang membawa keberadaan murid diantaranya adalah; komunitas keluarga, komunitas kelas dan antar kelas, komunitas sekolah, dan komunitas antar sekolah.

Program sekolah akan bermakna dan memberi warna proses pembelajaran murid apabila ada peran serta murid didalamnya. Memberi kesempatan murid untuk memunculkan gagasan sebelum program, memilih kegiatan yang sesuai dengan minat dan bakat mereka, sehingga memiliki rasa keterhubungan, keterlibatan aktif, dan investasi pribadi dalam proses belajar di kegiatan tersebut.

Mengelola program yang berdampak pada murid sangat berhubungan dengan materi pada modul sebelumnya, keterkaitan dengan modul sebelumnya dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. Modul 1.1 Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara

    Pembelajaran yang berkualitas bisa dicapai dengan memanfaatkan sumber daya yang ada disekolah dan masyarakat sehingga dapat terpenuhi kebutuhan belajar murid sesuai dengan minat dan bakatnya. Filosofi Ki Hajar Dewantara menampatkan murid adalah pribadi utuh yang mempunyai kodrat alam yang  memposisikan guru sebagai penuntun untuk memaksimalkan bakat dan minat yang ada pada murid disesuaikan dengan kebutuhan belajar murid, maka sebagai pemimpin pembelajaran, pengelolaan program yang berdampak pada murid hendaknya bertujuan untuk merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat murid dengan merdeka belajar. Potensi dan suara murid dapat tergali dengan baik sehingga menumbuhkan rasa memiliki/kepemilikan yang tinggi dalam diri murid.

2. Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak

Salah satu peran guru penggerak adalah peminpin pembelajaran. Sebagai pemimpin pembelajaran guru dapat memaksimalkan potensi murid melalui Suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) murid akan mengembangkan kapasitasnya menjadi pemilik bagi proses belajarnya sendiri. Sehingga program yang dijalankan berdampak positif kepada murid. 

3. Modul 1.3 Visi Guru Penggerak

Visi perubahan dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal baik apa  yang telah ada di sekolah, mencari cara bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan, dan memunculkan strategi untuk mewujudkan perubahan ke arah lebih baik. Visi perubahan dapat dimulai dari mendorong kepemimpinan murid sehingga murid mampu membuat pilihan-ilihan, menyuarakan opini, berpartisipasi dalam komunitas belajarnya. 

4. Modul 1.4 Budaya Positif

Pengelolaan program yang yang berasal dari pendapat dan pilihan yang berasal dari murid akan mendorong tanggungjawab terhadap program kegiatan yang diikuti adalah budaya positif yang akan mengembangkan potensi kepemimpinan murid sesuai dengan kodrat, konteks , dan kebutuhannya.

5. Modul 2.1 Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid :

Kebutuhan belajar murid adalah  readiness (kesiapan belajar murid), minat dan profil atau gaya belajar murid. Kebutuhan belajar murid dapat dipenuhi dengan menumbuhkembangkan kepemimpinan murid melalui pengelolaan program yang berdampak pada murid..

6. Modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional:

Penerapan pembelajaran sosial emosional akan menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman karena adanya program yang mengakomodasi kepentingan murid .Pengembangan pembelajaran sosial emosional akan meningkatkan kompetensi : yaitu: 1) Kesadaran diri, 2) Manajemen Diri, 3) Kesadaran Sosial, 4) Keterampilan Berelasi, dan 5) Pengambilan Keputusan yang bertanggung Jawab.

7. Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin :

Pengambilan keputusan oleh seorang pemimpin pembelajaran sangat dibutuhkan kemampuan yang memadai. Karena keputusan akan berpengaruh pada tujuan pembelajaran disekolah. Pengambilan keputusan berbasis pada nilai-nilai kebajikan akan terjadi apabila guru sebagai pemimpin pembelajaran akan menghasilkan program-program sekolah yang berdampak positif kepada murid.

8. Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Sebagai pemimpin dalam pengelolaan sumber daya guru harus bisa memaksimalkan asset yang ada. Pengelolaan asset secara maksimal akan berkontribusi besar terhadap program-program yang dilksanakan disekolah. Murid adalah asset biotik yang ada didalamnya. Keikutsertaan murid dalam merancang program sekolah wajib dilakukan karena sejatinya program dibuat untuk murid. Melalui suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) murid  dapat mengembangkan kapasitas dirinya menjadi seorang pemilik bagi proses belajarnya sendiri.

Setelah mempelajari modul calon Guru Penggerak ini saya berkesimpulan bahwa tujuan akhirnya adalah menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid melalui program yang berdampak positif kepada murid. Program yang berdampak positif menempatkan murid sebagai pribadi utuh yang perlu tuntunan guru yang berkemampuan sosial emosianal sehingga menghasilkan keputusan yang berbasis nilai-nilai kebajikan seorang pemimpin dengan memaksimalkan potensi asset yang ada, sehingga terjadi sinergi yang saling terkait dan saling membantu.

Dalam perencanaan program murid harus selalu diikutsertakan. Karena murid mempunyai pandangan, gagasan, perhatian, untuk berpartisipasi aktif. Melalui pilihan, murid berkesempatan untuk memilih lingkungan belajar yang mendukung belajar mereka, sehingga keterlibatan mereka terhadap apa yang dipelajarinya dengan terlibat aktif menunjukkan rasa kepemilikan mereka.

Dengah demikian program sekolah yang dijalankan benar-benar berpihak pada murid, karena mereka berkontribusi dalam perencanaan, melaksanakan, dan mereka akan beradadalam kursi kemudi roses belajar mereka sendiri.


Sumber Belajar :

Pendidikan Guru Penggerak

Modul 3.3 Pengelolaan Program yang berdampak Positif pada Murid

Oleh : Oscrina Dewi Kusuma, S.Pd. ,M.Pd., Indra Sari, SH., M.Pd., Dr. Siti Suharsih, Ss.s., M.Pd.


Selasa, 07 Maret 2023

Jurnal Refleksi Modul 3.1 - Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai Kebajikan sebagai Pemimpin

 


Sekolah adalah institusi moral,  merupakan miniature dunia yang berkontribusi terhadap terbangunnya budaya, nilai-nilai, dan moralitas diri murid. Kepemimpinan Kepala sekolah berperan sangat besar untuk menciptakan sekolah sebagai institusi moral yang menegakkann penerapan nilai-nilai yang diyakini dan menjadi teladan bagi murid.

Peran pemimpin tidak akan terpisahkan dengan pengambilan keputusan. Dalam pengambilan keputusan tidak jarang dihadapkan pada pilihan dimana ada nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar, namun saling bertentangan (dilema etika) sedangkan pada waktu yang lain dihadapkan pada pilihan kebenaran dan kebiasaan salah (bujukan moral).  Hal utama yang tidak boleh ditinggalkan adalah keputusan harus berpihak kepada murid, berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, dan keputusan itu dapat dipertanggungjawabkan.

Paradigma skituasi dilemma etika, ada 4 kategori :

1.Individu lawan kelompok (individual vs community)

Dalam pardigma ini ada pertentangan antara individu lawan sebuah kelompok yang lebih besar dimana individu ini menjadi bagiannya.

2.Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) 

Dalam paradigm aini, pilihannya adalah antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengkikuti aturan sepenuhnya, berlaku adil untuk semua atau membuat pengecualian dengan alasan kemurahan hati dan kasih sayang.

3.Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) 

Paradigma dimana pilihan antara kejujuran dan kesetiaan kepada orang lain, mengatakan sejujurnya atau melindungi teman yang sedang bermasalah.

4.Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Pilihan pada terbaik untuk sekarang atau terbaik untuk masa yang akan datang.

Etika sendiri bersifat relative, tergantung pada situasi dan kondisi saat dilema terjadi, namun ada 3 prinsip yang sering membantu.

Ketiga prinsip tersebut adalah:

  1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (End-Based Thinking)
  2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
  3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Dalam mengambil keputusan dapa situasi dilema etika dan bujukan moral, ada 9 konsep pengambilan  dan pengujian keputusan.

1. Mengenali nilai-nilai yang bertentangan

2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi

4. Pengujian benar dan salah

5. Uji legal

  • Uji regulasi/standar Profesional
  • Uji intuisi
  • Uji publikasi
  • Uji panutan/idola

 6. Pengujian paradigma benar lawan benarMelakukan prinsip resolusi

7. Investigasi opsi trilema

8. Buat keputusan

9. Lihat lagi keputusan dan refleksikan


Model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future)

Pada refleksi dwi mingguan modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan, saya akan  menggunakan model 4F(Facts, Feelings, Findings, Future). Refleksi model  4F dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan  menjadi  4P

1. Facts  (Peristiwa): 

Materi pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan memberi pengalaman baru. Sebagai pemimpin pembelajaran sering diharuskan mengambil keputusan yang nantinya berkontribusi pada terbangunnya budaya, nilai-nilai, menjadi teladan dan morlitas dalam diri semua murid. 

Ada beberapa kesulitan dalam identifikasi dan penerapan jenis permasalahan (kasus) salam 3 prinsip membuat keputusan. dan ternyata melalui forum diskusi dapat disimpulkan bahwa tidak ada prinsip yang salah atau paling benar karena identifikasi prinsip  tergantung jenis kasus, kapan terjadi, dimana dan siapa saja pihak yang terlibat didalamnya.

Nilai-nulai pembelajaran yang bisa diambil dari modul ini adalah bahwa sebelum mengambil sebuah keputuasan memerlukan beberapa kriteria dan tahapan yang harus dilalui sehingga keputusan yang diambil ada keberpihakan kepada murid, mengandung nilai-nilai kebajikan universal sehingga dapat dipertanggungjawabkan.

2. Feelings  (Perasaan): 

Saya sangat bersemangat, Ternyata ada acara baik untuk membuat sebuah keputusan. Karena selama ini dalam membuat keputusan hanya berdasar pada beberapa pertimbangan seperlunya, tetapi dalam modul ini ada beberapa tahapan dan Langkah yang harus dilalui. Dengan tahapan dan Langkah yang ada saya merasa yakin dengan pengambilan keputusan. 

Berdasar pengalaman  penerapan dalam aksi nyata  di kelas membuktikan bahwa keputusan yang dihasilkan dapat diterima oleh semua pihak, terlihat dengan kondidi kelas yang kondusif tanpa ada persoalan baru yang menyertai.

3. Findings  (Pembelajaran): 

Banyak hal yang saya peroleh dari proses pembelajaran ini, ternyata sebuah keputusan harus melalui beberapa proses dan tahapan. Dengan memahami 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengabilan dan pengujian keputusan, akan menghasilkan keputusan terbaik yang bisa diterima semua pihak.

4. Future  (Penerapan): 

Setelah mempelajari modul ini saya akan menerapkan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan pada setiap pengambilan keputusan. Mengajak rekan sejawat untuk memahami dan menerapkan pengambilan keputusan yang berbasis pada nilai-nilai kebajikan agar tercipta pembelajarn yang kondusif, aman, dan nyaman. Karena sekolah adalah institusi moral yang  menjadi teladan dan morlitas dalam diri semua murid. 


Daftar Pustaka :

  • Program Pendidikan Guru Penggerak
  • Modul 3.1 Penga,mbilan Keputusan Berdasar Nilai-nila Kebajikan Sebagai pemimpin
  • Oleh : Andri Nurcahyani, S.Pd, M.S, Diah Samsiati Rajasa, M.Sc