Sabtu, 18 Maret 2023

Koneksi Antar Materi Modul 3.3 Pengelolaan Program Yang Berdampak Pada Murid

     


Mempelajari modul ini memberi banyak memberikan pengetahuan baru tentang bagaimana, menyusun sebuah kegiatan yang berdampak pada murid. Selama  ini,  sering sekali kita melihat bahwa program-program sekolah, hanya  menempatkan  murid-murid  sebagai  objek  dari  program-program  tersebut.  Keterlibatan murid hanya    karena   sebuah  keharusan  untuk  terlibat,  rutinitas,  kewajiban  yang  harus  dijalankan,  atau  hanya  sekedar  sebuah  kegiatan  yang  menyenangkan untuk dilakukan. Padahal, kita semua tahu bahwa pengambilan makna  adalah esensi dari proses belajar itu sendiri. Pada modul ini saya mengenal student agency yang diartikan sebagai kepemimpinan murid dalam pengelolaan program sekolah. Mendorong  kepemimpinan murid dalam program sekolah menjadikan murid menjadi  individu  yang  lebih  bertanggungjawab,  berdaya,  dan  kontributif,  akan  memberikan  bekal untuk mereka menjadi seorang pembelajar sepanjang hayat,

Hal penting yang saya dapatkan dari mempelajari modul ini adalah adanya pemahaman baru tentang :

  1. Kepemimpinan  murid  (students  agency)  dan  kaitannya  dengan  Profil  Pelajar Pancasila
  2. Suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) murid dalam konsep kepemimpinan murid.
  3. Lingkungan yang mendukung tumbuhkembangnya kepemimpinan murid pentingnya  melibatkan  komunitas  untuk  mendukung  tumbuhnya  kepemimpinan murid.

a) Kepemimpinan murid

Secara alami murid adalah pengamat, penjelajah, penanya, yang memiliki rasa ingin tahu untuk membangun sendiri pemahaman tentang diri, orang lain, lingkungan sekitar, dan dunia yang lebih luas, karena sebenarnya berkemampuan untuk mengambil bagian dari proises belajarnya sendiri sehingga potensi kepemimpinannya berkembang dengan baik.

b) Menumbuhkan kepemimpinan Murid

Melalui Suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) murid akan mengembangkan kapasitasnya menjadi pemilik bagi proses belajarnya sendiri. Melalui suara (voice) murid akan mengeksporesikan gagasan melalui partisipasi aktifnya dikelas, sekolah, komunitas, dan lingkungan dimana mereka berada. Sedangkan pilihan (choice)  adalah memberi kesempatan kepada murid untuk memiliki pilahan sesuai dengan minat, memilih lingkungan belajar, pilihan untuk berlatih dalam penguasaan pengetahuan dalam pembelajaran. Sedangkan kepemilikan (ownership) adalah bagaimana murid memiliki rasa keterhubungan, keterlibatan aktif, dan investasi pribadi dalam proses belajar.

c) Lingkungan untuk tumbuhkembang murid

Karakteristik lingkungan yang dapat menumbuhkembangkan kepemimpinan murid (Noble et al (2008) adalah :

  1. Lingkungan yang menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan  emosi  yang  positif.
  2. Lingkungan yang mengembangkan  keterampilan berinteraksi sosial  secara positif, arif dan bijaksan
  3. Lingkungan yang melatih  keterampilan yang dibutuhkan  murid dalam proses  pencapaian tujuan  akademik  maupun  non-akademiknya
  4. Lingkungan  yang  melatih  murid  untuk  menerima  dan  memahami  kekuatan  diri,  sesama, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya
  5. Lingkungan yang membuka wawasan murid agar dapat  menentukan dan menindaklanjuti  tujuan, harapan atau mimpi  yang manfaat dan kebaikannya  melampaui pemenuhan kepentingan  individu, kelompok, maupun golongan
  6. Lingkungan yang menempatkan murid sedemikian rupa sehingga terlibat aktif dalam proses  belajarnya sendiri.
  7. Lingkungan yang menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh  murid untuk terus bangkit  di tengah kesempitan dan kesulitan

Aksi Nyata Modul 3.3 Pengelolaa Program Yang berdampak Pada Murid


Selain lingkungan yang dapat membantu tumbuhkembang murid, peran komunitas juga mengambil peran penting. Beberapa komunitas yang membawa keberadaan murid diantaranya adalah; komunitas keluarga, komunitas kelas dan antar kelas, komunitas sekolah, dan komunitas antar sekolah.

Program sekolah akan bermakna dan memberi warna proses pembelajaran murid apabila ada peran serta murid didalamnya. Memberi kesempatan murid untuk memunculkan gagasan sebelum program, memilih kegiatan yang sesuai dengan minat dan bakat mereka, sehingga memiliki rasa keterhubungan, keterlibatan aktif, dan investasi pribadi dalam proses belajar di kegiatan tersebut.

Mengelola program yang berdampak pada murid sangat berhubungan dengan materi pada modul sebelumnya, keterkaitan dengan modul sebelumnya dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. Modul 1.1 Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara

    Pembelajaran yang berkualitas bisa dicapai dengan memanfaatkan sumber daya yang ada disekolah dan masyarakat sehingga dapat terpenuhi kebutuhan belajar murid sesuai dengan minat dan bakatnya. Filosofi Ki Hajar Dewantara menampatkan murid adalah pribadi utuh yang mempunyai kodrat alam yang  memposisikan guru sebagai penuntun untuk memaksimalkan bakat dan minat yang ada pada murid disesuaikan dengan kebutuhan belajar murid, maka sebagai pemimpin pembelajaran, pengelolaan program yang berdampak pada murid hendaknya bertujuan untuk merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat murid dengan merdeka belajar. Potensi dan suara murid dapat tergali dengan baik sehingga menumbuhkan rasa memiliki/kepemilikan yang tinggi dalam diri murid.

2. Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak

Salah satu peran guru penggerak adalah peminpin pembelajaran. Sebagai pemimpin pembelajaran guru dapat memaksimalkan potensi murid melalui Suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) murid akan mengembangkan kapasitasnya menjadi pemilik bagi proses belajarnya sendiri. Sehingga program yang dijalankan berdampak positif kepada murid. 

3. Modul 1.3 Visi Guru Penggerak

Visi perubahan dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal baik apa  yang telah ada di sekolah, mencari cara bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan, dan memunculkan strategi untuk mewujudkan perubahan ke arah lebih baik. Visi perubahan dapat dimulai dari mendorong kepemimpinan murid sehingga murid mampu membuat pilihan-ilihan, menyuarakan opini, berpartisipasi dalam komunitas belajarnya. 

4. Modul 1.4 Budaya Positif

Pengelolaan program yang yang berasal dari pendapat dan pilihan yang berasal dari murid akan mendorong tanggungjawab terhadap program kegiatan yang diikuti adalah budaya positif yang akan mengembangkan potensi kepemimpinan murid sesuai dengan kodrat, konteks , dan kebutuhannya.

5. Modul 2.1 Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid :

Kebutuhan belajar murid adalah  readiness (kesiapan belajar murid), minat dan profil atau gaya belajar murid. Kebutuhan belajar murid dapat dipenuhi dengan menumbuhkembangkan kepemimpinan murid melalui pengelolaan program yang berdampak pada murid..

6. Modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional:

Penerapan pembelajaran sosial emosional akan menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman karena adanya program yang mengakomodasi kepentingan murid .Pengembangan pembelajaran sosial emosional akan meningkatkan kompetensi : yaitu: 1) Kesadaran diri, 2) Manajemen Diri, 3) Kesadaran Sosial, 4) Keterampilan Berelasi, dan 5) Pengambilan Keputusan yang bertanggung Jawab.

7. Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin :

Pengambilan keputusan oleh seorang pemimpin pembelajaran sangat dibutuhkan kemampuan yang memadai. Karena keputusan akan berpengaruh pada tujuan pembelajaran disekolah. Pengambilan keputusan berbasis pada nilai-nilai kebajikan akan terjadi apabila guru sebagai pemimpin pembelajaran akan menghasilkan program-program sekolah yang berdampak positif kepada murid.

8. Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Sebagai pemimpin dalam pengelolaan sumber daya guru harus bisa memaksimalkan asset yang ada. Pengelolaan asset secara maksimal akan berkontribusi besar terhadap program-program yang dilksanakan disekolah. Murid adalah asset biotik yang ada didalamnya. Keikutsertaan murid dalam merancang program sekolah wajib dilakukan karena sejatinya program dibuat untuk murid. Melalui suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) murid  dapat mengembangkan kapasitas dirinya menjadi seorang pemilik bagi proses belajarnya sendiri.

Setelah mempelajari modul calon Guru Penggerak ini saya berkesimpulan bahwa tujuan akhirnya adalah menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid melalui program yang berdampak positif kepada murid. Program yang berdampak positif menempatkan murid sebagai pribadi utuh yang perlu tuntunan guru yang berkemampuan sosial emosianal sehingga menghasilkan keputusan yang berbasis nilai-nilai kebajikan seorang pemimpin dengan memaksimalkan potensi asset yang ada, sehingga terjadi sinergi yang saling terkait dan saling membantu.

Dalam perencanaan program murid harus selalu diikutsertakan. Karena murid mempunyai pandangan, gagasan, perhatian, untuk berpartisipasi aktif. Melalui pilihan, murid berkesempatan untuk memilih lingkungan belajar yang mendukung belajar mereka, sehingga keterlibatan mereka terhadap apa yang dipelajarinya dengan terlibat aktif menunjukkan rasa kepemilikan mereka.

Dengah demikian program sekolah yang dijalankan benar-benar berpihak pada murid, karena mereka berkontribusi dalam perencanaan, melaksanakan, dan mereka akan beradadalam kursi kemudi roses belajar mereka sendiri.


Sumber Belajar :

Pendidikan Guru Penggerak

Modul 3.3 Pengelolaan Program yang berdampak Positif pada Murid

Oleh : Oscrina Dewi Kusuma, S.Pd. ,M.Pd., Indra Sari, SH., M.Pd., Dr. Siti Suharsih, Ss.s., M.Pd.


Selasa, 07 Maret 2023

Jurnal Refleksi Modul 3.1 - Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai Kebajikan sebagai Pemimpin

 


Sekolah adalah institusi moral,  merupakan miniature dunia yang berkontribusi terhadap terbangunnya budaya, nilai-nilai, dan moralitas diri murid. Kepemimpinan Kepala sekolah berperan sangat besar untuk menciptakan sekolah sebagai institusi moral yang menegakkann penerapan nilai-nilai yang diyakini dan menjadi teladan bagi murid.

Peran pemimpin tidak akan terpisahkan dengan pengambilan keputusan. Dalam pengambilan keputusan tidak jarang dihadapkan pada pilihan dimana ada nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar, namun saling bertentangan (dilema etika) sedangkan pada waktu yang lain dihadapkan pada pilihan kebenaran dan kebiasaan salah (bujukan moral).  Hal utama yang tidak boleh ditinggalkan adalah keputusan harus berpihak kepada murid, berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, dan keputusan itu dapat dipertanggungjawabkan.

Paradigma skituasi dilemma etika, ada 4 kategori :

1.Individu lawan kelompok (individual vs community)

Dalam pardigma ini ada pertentangan antara individu lawan sebuah kelompok yang lebih besar dimana individu ini menjadi bagiannya.

2.Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) 

Dalam paradigm aini, pilihannya adalah antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengkikuti aturan sepenuhnya, berlaku adil untuk semua atau membuat pengecualian dengan alasan kemurahan hati dan kasih sayang.

3.Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) 

Paradigma dimana pilihan antara kejujuran dan kesetiaan kepada orang lain, mengatakan sejujurnya atau melindungi teman yang sedang bermasalah.

4.Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Pilihan pada terbaik untuk sekarang atau terbaik untuk masa yang akan datang.

Etika sendiri bersifat relative, tergantung pada situasi dan kondisi saat dilema terjadi, namun ada 3 prinsip yang sering membantu.

Ketiga prinsip tersebut adalah:

  1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (End-Based Thinking)
  2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
  3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Dalam mengambil keputusan dapa situasi dilema etika dan bujukan moral, ada 9 konsep pengambilan  dan pengujian keputusan.

1. Mengenali nilai-nilai yang bertentangan

2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi

4. Pengujian benar dan salah

5. Uji legal

  • Uji regulasi/standar Profesional
  • Uji intuisi
  • Uji publikasi
  • Uji panutan/idola

 6. Pengujian paradigma benar lawan benarMelakukan prinsip resolusi

7. Investigasi opsi trilema

8. Buat keputusan

9. Lihat lagi keputusan dan refleksikan


Model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future)

Pada refleksi dwi mingguan modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan, saya akan  menggunakan model 4F(Facts, Feelings, Findings, Future). Refleksi model  4F dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan  menjadi  4P

1. Facts  (Peristiwa): 

Materi pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan memberi pengalaman baru. Sebagai pemimpin pembelajaran sering diharuskan mengambil keputusan yang nantinya berkontribusi pada terbangunnya budaya, nilai-nilai, menjadi teladan dan morlitas dalam diri semua murid. 

Ada beberapa kesulitan dalam identifikasi dan penerapan jenis permasalahan (kasus) salam 3 prinsip membuat keputusan. dan ternyata melalui forum diskusi dapat disimpulkan bahwa tidak ada prinsip yang salah atau paling benar karena identifikasi prinsip  tergantung jenis kasus, kapan terjadi, dimana dan siapa saja pihak yang terlibat didalamnya.

Nilai-nulai pembelajaran yang bisa diambil dari modul ini adalah bahwa sebelum mengambil sebuah keputuasan memerlukan beberapa kriteria dan tahapan yang harus dilalui sehingga keputusan yang diambil ada keberpihakan kepada murid, mengandung nilai-nilai kebajikan universal sehingga dapat dipertanggungjawabkan.

2. Feelings  (Perasaan): 

Saya sangat bersemangat, Ternyata ada acara baik untuk membuat sebuah keputusan. Karena selama ini dalam membuat keputusan hanya berdasar pada beberapa pertimbangan seperlunya, tetapi dalam modul ini ada beberapa tahapan dan Langkah yang harus dilalui. Dengan tahapan dan Langkah yang ada saya merasa yakin dengan pengambilan keputusan. 

Berdasar pengalaman  penerapan dalam aksi nyata  di kelas membuktikan bahwa keputusan yang dihasilkan dapat diterima oleh semua pihak, terlihat dengan kondidi kelas yang kondusif tanpa ada persoalan baru yang menyertai.

3. Findings  (Pembelajaran): 

Banyak hal yang saya peroleh dari proses pembelajaran ini, ternyata sebuah keputusan harus melalui beberapa proses dan tahapan. Dengan memahami 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengabilan dan pengujian keputusan, akan menghasilkan keputusan terbaik yang bisa diterima semua pihak.

4. Future  (Penerapan): 

Setelah mempelajari modul ini saya akan menerapkan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan pada setiap pengambilan keputusan. Mengajak rekan sejawat untuk memahami dan menerapkan pengambilan keputusan yang berbasis pada nilai-nilai kebajikan agar tercipta pembelajarn yang kondusif, aman, dan nyaman. Karena sekolah adalah institusi moral yang  menjadi teladan dan morlitas dalam diri semua murid. 


Daftar Pustaka :

  • Program Pendidikan Guru Penggerak
  • Modul 3.1 Penga,mbilan Keputusan Berdasar Nilai-nila Kebajikan Sebagai pemimpin
  • Oleh : Andri Nurcahyani, S.Pd, M.S, Diah Samsiati Rajasa, M.Sc


Senin, 06 Maret 2023

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.2 Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya

 

Ilustrasi Gambar dari :https://www.jojonomic.com/


SUDADI

CGP Angkatan 6 Kabupaten Rembang

Jurnal refleksi modul 3.2 Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya saya akan mencoba menggunakan Model 3: Six Thinking Hats (Teknik 6 Topi).

Diperkenalkan oleh Edward de Bono pada tahun 1985, Model ini melatih kita  melihat satu topik dari berbagai sudut pandang, yang disimbolkan dengan enam warna topi. Setiap  topi mewakili cara berpikir yang berbeda; beberapa di antaranya terkadang mendominasi cara kita  berpikir. Karena itu, dengan semakin sering melatih keenam “topi”, kita akan dapat mengambil  refleksi yang lebih mendalam.

 Keenam topi tersebut berikut penggunaannya dalam jurnal refleksi adalah:

1) Topi putih: tuliskan informasi sebanyak-banyaknya terkait pengalaman yang terjadi. Informasi  ini harus berupa fakta; bukan opini.

Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya mulai kami pelajari pada 16 Februari 2023. Modul ini mempelajri bahwa sekolah merupakan sebuah ekosistem yang mencirikan pola hubungan yang saling keterkaitan dan  ketergantungan.  saling menunjang pada sebuah teritorial atau lingkungan tertentu

Sebuah ekosistem sekolah terbentuk sebuah interaksi antara factor biotik (unsur yang hidup) dan abiotic (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur  ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Faktor biotik  akan saling mempengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu dengan lainnya.

Faktor biotik itu diantaranya adalah Murid, Kepala Sekolah, Guru, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, orang tua murid, masyarakat sekitar, dan Dinas terkait.

Sedangkan factor abiotic juga berperan penting dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Diantaranya adalah : keuangan, sarana dan prasarana, dan lingkungan sekolah itu sendiri.

Di sekolah seorang pemimpin pembelajaran harus mampu mengoptimalkan potensi yang ada pada masing-masing komponen, sehingga tercipta hubungan yang saling terkait dan menunjang satu dengan lainnya.

Cara pandang pemimpin pembelajaran terhadap sumber daya sekolah ini ada dua macam :

  1. Pendekatan berbasis kekurangan (deficit-based approach)
  2. Pendekatan Berbasis Aset (Asset-Based Approach)

Pendekatan berbasis kekurangan akan memusatkan pada hal-hal yang mengganggu, apa yang kurang dan sesuatu yang tidak berfungsi dengan baik. Kekurangan yang dimiliki akan mendorong bagaimana kita mengatasi kekurangan tersebut dan hal ini akan berakibat pada perasaan tidak nyaman dan tidak menyadari bahwa masih ada potensi dan peluang yang bisa dikembangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Pendekatan berbasis asset menekuni kekuatan berfikir positif, menemukenali potensi yang ada untuk untuk pengembangan diri. Pendekatan ni menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berfikir, dan memusatkan pada hal-hal yang sudah berjalan dengan baik, yang menjadi inspirasi untuk lebih dikembangkan.

Pendekatan berbasis asset ini selaras dengan paradigma Inkuiri Apresiatif (IA). Konsep IA menekankan bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat berkontribusi pada keberhasilan. Dalam inplementasinya. IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki oleh organisasi.

Sekolah adalahj sebuah komunitas, dan menurut Bank of I.D.E.A.S. (2014), bahwa karakteristik komunitas yang sehat dan relisient adalah sebagai berikut :

  1. Mempraktikkan dialog yang berkelanjutan dan partisipasi masyarakat
  2. Menumbuhkan komitmen terhadap tempat
  3. Membangun koneksi dan kolaborasi
  4. Mengenal dirinya sendiri danmmembangun asset yang ada,
  5. Membentuk masa depannya
  6. Bertindak dengan ide dan peluang
  7. Merangkul perubahan dan bertanggungjawab
  8. Menghasilkan kepemimpinan.

Sebagai sebuah komunitas, sekolah dapat memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya untuk dapat dimanfaatkan dengan pendekatan berbasis asset. Modal utama berupa 7 aset adalah sebagai berikut : 

  1. Modal Manusia,
  2.  Modal Sosial, 
  3. modal politik, 
  4. modal agama dan budaya, 
  5. modal fisik, 
  6. modal lingkungan/alam,
  7.  modal finansial.

2) Topi merah: Gambarkan perasaan Anda terkait dengan topik yang sedang dibahas, misalnya  perasaan saat mempelajari materi baru atau saat menjalankan diskusi kelompok.

Sangat senang. Adalah perasaan yang ada pada saat mempelajari modul ini. Beberapa hal baru yang membuka cara pendekatan berfikir yang semula pasrah dengan keadaan (deficit-based approach), menjadi paradigma berfikir dengan memanfaatkan kekuatan dan potensi yang ada (Asset-Based Approach). 

Semakin bersemangat lagi pada sesi Forum Diskusi Kelompok yang secara Bersama-sama menggali potensi asset yang ada di luar sekolah. Ternyata ada banyak sekali sumber kekuatan diluar sekolah yang bisa dimanfaatkan untuk menunjang pembelajaran yang berkualitas dan berpihak pada murid.

Ruang kolaborasi memberikan banyak sekali pengalaman baru mengambil dari paparan yang disampaikan oleh kelompok yang berasal dari daerah lain,. Baik berupa ide-ide baru maupun kegiatan yang saat ini sedang dilakukan. Melalui penguatan dari fasilitator semakin yakin bahwa sangat penting menemukenali asset yang ada dengan dengan memaksimalkan potensi yang dimilikinya untuk semakin meningkatkan kualitas pembelajaran yang bermakna dan berpihak kepada murid.

3) Topi kuning: Tuliskan hal-hal positif yang terkait dengan topik tersebut.

Hal-hal positif dari topik ini adalah dengan pendekatan berfikir berbasis asset/kekuatan (Asset-Based Approach)  kita akan menjadi pemimpin pembelajaran yang senantiasa mempunyai visi kedepan untuk selalu berkembang dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki sekolah. Pendekatan berfikir berbasis asset/kekuatan (Asset-Based Approach)  akan menjalin hubungan positif dan saling ketergantungan dalam komunitas untuk mencapai tujuan pembelajaran.


4) Topi hitam: tuliskan kendala, hambatan, atau risiko dari tindakan/peristiwa yang sedang dibahas.

Pemimpin Pengelolaan Berbasis Sumber Daya adalah hal baru, perlu pendalaman dan perubahan paradigma berfikir bahwa asset yang ada mempunyai potensi yang bisa dimaksimalkan untuk menunjang pembelajaran, tidak semua komponen yang ada peduili dengan pendidikan disekolah, utamanya asset yang ada diluar lingkungan sekolah, perlu pendekatan intensif untuk merubahnya untuk menjadi kesepahaman meningkatkan mutu pembelajaran adalah tanggungjawab semua pihak.

5) Topi hijau: Jabarkan ide-ide yang muncul setelah mengalami peristiwa tersebut.

Ide-ide yang muncul setelah mempelajari modul ini adalah dimulai darilangkah awal untuk Bersama-sama dalam komunitas sekolah untuk menemukenali asset yang ada disekolah untuk dimaksimalkan potensinya dalam penerapan pembelajaran. Langkah selanjutnya sekolah bersama-sama unsur yang ada diluar sekolah menginventarisasi asset yang ada diluar sekolah bersert potensi yang dimilikiya untuk bejkerjasama dama peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.

6) Topi biru: tarik kesimpulan dari peristiwa yang terjadi, atau ambil keputusan setelah mempertimbangkan kelima sudut pandang lainnya. Bandingkan dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Kesimpulannya adalah sebagai sebuah ekosistem sekolah mempunya berbagai komponen yang merupakan asset yang masing-masing mempunyai kekuatan untuk dikembangkan dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran di sekolah. Pemanfaatan sumber daya didahului dengan berfikir berbasis kekuatan sehingga guru sebagai pemimpin pembelajaran senantiasa berfikir positif  untuk mengembangkan diri, menemukenali hal-halpositif dalam kehidupan dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berfikir, memusatkan perhatian pada hal-hal yang berjalan dengan baik, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi positif.

Dan sebagai guru penggerak adalah sebuah kewajiban bagaimana kita memulai untuk bergerak menjadi pemimpin dalam pengelolaan sumberdaya sehingga tergerak untuk Bersama-sama dalam pengembangan sekolah untuk meningkatkan kualitas belajar murid.