Sabtu, 25 Februari 2023

3.2.a.8. Koneksi Antar Materi - Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya dan Implementasinya

 Sekolah adalah sebuah ekosistem yang berisi beberapa komponen yang saling berhubungan, keterkaitan dan  ketergantungan. Sebuah ekosistem mencirikan satu pola hubungan yang saling menunjang pada sebuah teritorial atau lingkungan tertentu

Sebuah ekosistem sekolah terbentuk sebuah interaksi antara factor biotik (unsur yang hidup) dan abiotic (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur  ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Faktor biotik  akan saling mempengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu dengan lainnya.

Faktor biotik itu diantaranya adalah Murid, Kepala Sekolah, Guru, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, orang tua murid, masyarakat sekitar, dan Dinas terkait.

Sedangkan factor abiotik juga berperan penting dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Diantaranya adalah : keuangan, sarana dan prasarana, dan lingkungan sekolah itu sendiri.

Di sekolah seorang pemimpin pembelajaran harus mampu mengoptimalkan potensi yang ada pada masing-masing komponen, sehingga tercipta hubungan yang saling terkait dan menunjang satu dengan lainnya.

Cara pandang pemimpin pembelajaran terhadap sumber daya sekolah ini ada dua macam :

  1. Pendekatan berbasis kekurangan (deficit-based approach)
  2. Pendekatan Berbasis Aset (Asset-Based Approach)

    Pendekatan berbasis kekurangan akan memusatkan pada hal-hal yang mengganggu, apa yang kurang dan sesuatu yang tidak berfungsi dengan baik. Kekurangan yang dimiliki akan mendorong bagaimana kita mengatasi kekurangan tersebut dan hal ini akan berakibat pada perasaan tidak nyaman dan tidak menyadari bahwa masih ada potensi dan peluang yang bisa dikembangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

    Pendekatan berbasis asset menekuni kekuatan berfikir positif, menemukenali potensi yang ada untuk untuk pengembangan diri. Pendekatan ni menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berfikir, dan memusatkan pada hal-hal yang sudah berjalan dengan baik, yang menjadi inspirasi untuk lebih dikembangkan.

Pendekatan berbais asset ini selaras dengan paradigma Inkuiri Apresiatif (IA). Konsep IA menekankan bahwa setiaporang memiliki inti positif yang dapatberkontribusi pada keberhasilan. Dalam inplementasinya. IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki oleh organisasi.

Koneksi Antar Materi 

1. Kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan ‘Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya’ dan bagaimana mengimplementasikannya di dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah.

Pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya adalah pemimpin yang dapat memaksimalkan potensi yang ada dalam komunitasnya untuk lebih berdayaguna sehingga dapat menyelesaikan tantangan yang dihadapinya dengan dengan potensi yang dimilikinya untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Dalam pengelolaan sumber daya pemimpin pembelajaran dapat menemukenali potensi-potensi kekuatan yang ada dikelas baik komponen biotik dan abiotic. Adanya saling keterkaitn dan saling menunjang satu sama lain kekuatan yang ada disekolah dan dimasyarakat dimanfaatkan sebagai pendukung. Jalinan Kerjasama dengan masyarakat akan memudahkan pencapain tujuan pembelajaran karena ada kontribusi positif.


2. Contoh bagaimana hubungan pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas

    Pengelolaan sumber daya yang tepat dimulai dari identifikasi potensi yang ada pada masing-masing asset, dari masing-masing potensi yang ada selanjutnya dikelola sesuai dengan fungsi sehingga tercipta hubungan yang saling mendukung.

Contohnya adalah kebutuhan belajar murid dapat dipenuhi dengan potensi sumber daya yang ada. Salah satu kebutuhan belajar murid adalah Minat Murid. Salah satu area minat/kegemaran adalah minat kerajinan atau kriya. Selain sumber daya yang ada disekolah, kita dapat memanfaatkan sumber daya manusia yang ada dimasyarakat dengan mengundang ke sekolah untuk menjadi pembimbing dalam kegiatan ekstrakurikuler.

3. Berikan beberapa contoh bagaimana materi ini juga berhubungan dengan modul lainnya yang Anda dapatkan sebelumnya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak.

     a. Modul 1.1 Refleksi Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara :

    Pembelajaran yang berkualitas bisa dicapai dengan memanfaatkan sumber daya yang ada disekolah dan masyarakat sehingga dapat terpenuhi kebutuhan belajar murid sesuai dengan minat dan bakatnya. Filosofi Ki Hajar Dewantara menampatkan murid adalah pribadi utuh yang mempunyai kodrat alam yang  memposisikan guru sebagai penuntun untuk memaksimalkan bakat dan minat yang ada pada murid disesuaikan dengan sumberdaya/asset  yang ada disekitarnya(kodrat zaman)

     b. Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak 

Salah satu peran guru penggerak adalah peminpin pembelajaran. Sebagai pemimpin pembelajaran guru dapat memaksimalkan potensi sumber daya yang ada untuk memenuh kebutuhan belajar murid untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak kepada murid. Dengan memaksimalkan 7 aset yang ada di sekitar sekolah, maka guru dapat menjalankan perannya sebagai guru penggerak.

     c. Modul 1.3 Visi Guru Penggerak 

Visi perubahan seperti dikutif dari : ~ Roland Barth, “Improving schools from within ” (1990) “Perubahan di  sekolah dapat  diinisiasi  oleh pihak  luar,  tetapi  perubahan yang paling penting dan berkesinambungan akan datang dari dalam.” Visi perubahan dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal baik apa  yang telah ada di sekolah, mencari cara bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan, dan memunculkan strategi untuk mewujudkan perubahan ke arah lebih baik.Pemikiran pendekatan  berbasis asset akan menyelaraskan kekuatan kekuatan yang  dengan visi sekolah impian dan visi setiap warga sekolah

     d. Modul 1.4 Budaya Positif

Salah satu asset yang dimiliki sekolah adalah guru dan murid. Budaya positif akan menciptakana suasana pembelajaran yang kondusif dan berpihak pada murid. Budaya positif dimulai dari cara berfikir positif dengan pendekatan berbasis asset untuk memaksimalkan potensi asset yang ada disekolah dan sekitarnya.

     e. Modul 2.1 Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid 

Kebutuhan belajar murid adalah  readiness (kesiapan belajar murid), minat dan profil atau gaya belajar murid. Kebutuhan belajar murid dapat dipenuhi dengan memetakan potensi asset yang ada disekolah dan masyarakat. Potensi asset yang beragm ini dapat diaplikasikan dengan pembelajaran berdiferensiasi.

      f. Modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional

Penerapan pembelajaran sosial emosional akan menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman karena adanya hubungan yang selaras, saling membutuhkan dan saling mendukung asetmanusia yang ada di sekolah untuk mencapai ketercapaian kompetensi akademik di sekolah.Pengembangan pembelajaran sosial emosional akan meningkatkan kompetensi : yaitu: 1) Kesadaran diri, 2) Manajemen Diri, 3) Kesadaran Sosial, 4) Keterampilan Berelasi, dan 5) Pengambilan Keputusan yang bertanggung Jawab.

     g. Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin 

Pengambilan keputusan oleh seorang pemimpin pembelajaran sangat dibutuhkan kemampuan yang memadai. Karena keputusan akan berpengaruh pada tujuan pembelajaran disekolah. Pengambilan keputusan berbasis pada nilai-nilai kebajikan akan terjadi apabila guru sebagai pemimpin pembelajaran paham betul dengan potensi dan karakter aset yang ada disekolah.

4. Hubungan antara sebelum dan sesudah saya mengikuti modul ini, serta pemikiran apa yang sudah berubah di diri saya setelah mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini.

Sebelum mempelajari modul ini saya belum mengetahui identifikasi asset yang bisa mendukung tercapainya visi dan misi sekolah. Modul ini memberikan wawasan cara berfikir dengan dua pendekatan yaitu pendekatan berbasis kekurangan/masalah (deficit-Based Approch) dan pendekatan berbasis asset/kekuatan ( Asset-Based Approach).

Pendekatan berbasis kekurangan akan membawa kita pada pemiiran bagaimana kita menutupi kekurangan yang ada atau menyelesaikan masalah yang ada, perhatian hanya pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak berfungsi dengan baik, sehingga melupakan potensi asset yang sebenarnya bisa dimanfaatkan.

Pendekatan berbasis kekuatan berpusat pada bagaimana cara menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berfikir, memusatkan apa yang sudah berjalan dengan baik, yang menjadi potensi positif untuk lebih dikembangkan.

Setelah mengikuti proses pembelajaran modul terjadi perubahan dengan cara berfikir saya bahwa jangan menyerah dengan keadaan yang ada. Saya mulai menerapkan bahwa setiap asset mempunyai potensi yang bisa dikembangkan untuk saling mendukung dalam mencapai tujuan pembelajaran.


Sumber Belajar : Program Pendidikan Guru Penggerak Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya

Penulis modul:Dr. Siti Suharsih, S.S., M.Pd,Yuni Widiastuti, S.Si, M.Psi.T


Minggu, 12 Februari 2023

Koneksi Antar Materi 3.1.a.8.1.Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai Kebajikan Seorang Pemimpin

 


Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Tiloka  memberikan ruang bagi perserta didik untuk bertumbuh secara utuh agar mampu menempatkan dirinya dan orang lain ( merdeka batin) dan menjadi mandiri (merdeka lahir), kekuatan diri ( kodrat)  yang dimiliki, cakap mengatur hidupnya tanpa diperintah orang lain.

Pendidikan yang menitikberatkan pada peningkatan budi pekerti, menempatkan guru menjadi pribadi yang Ing Ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Guru harus mampu menjadi orang tua, dan sahabat. Guru harus menjadi contoh yang digugu dan ditiru, selalu berada ditengah peserta didiknya untuk memberikan semangat dan ide untuk berkarya serta selalu mendorong menuju tujuan yang benar.

“ Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik ” (Bob Talbert)

Pendidikan adalah sebuah proses sintematis dan terencana.  Sebagai pendidik dan sebagai orang tua kita tidak hanya fokus memberi materi pembelajaran dan mengasah kecerdasan intelegensi anak, tetapi juga mengajarkan bagaimana mereka mengasah dan menerapkan kecerdasan spritual, agar mampu membedakan baik dan buruk, penuh kasih sayang, berkarakter. agar memiliki kecerdasan emosional, intelegensi, dan sosial.

Guru adalah penuntun muridnya untuk memaksimalkan potensi yang ada pada dirinya, dan sebagai pemimpin pembelajaran segala keputusan yang diambil harus selalu ada keberpihakan kepada murid, mengandung kebenaran yang universal dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Georg Wilhelm Friedrich Hegel

  “ Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku  etis.” 

Dapat diartikan bahwa Pendidikan merupakan suatu proses menuntun siswa dengan penguatan karakter, norma -norma  sehingga akan menjadi generasi yang memiliki nilai moral, kebajikan dan kebenaran untuk menjalankan kehidupannya. Generasi yang akan datang adalah cerminan pendidikan saat ini yang kita ukir seperti membuat maha karya terbaik yang akan mewarnai negeri ini di masa depan.
Guru adalah  pendidik yang mempunyai kompetensi diri yang ideal,  mengerti dan mampu melaksanakan nilai-nilai yang harus dimiliki oleh seorang guru.
Selanjutnya dengan kompetensi yang dimiliki tersebut, guru bisa menjadi pemimpin pembelajaran di kelasnya, membentuk kepemimpinan murid, menjalin kerjasama dengan lingkungan dan menjadi penggerak pada komunitas dimana dia berada

Ki Hajar Dewantara dengan sistem Among menjadikan guru dalam perannya bukan satu-satunya sumber pengetahuan melainkan sebagai mitra setara peserta didik untuk melejitkan kodrat dan irodat yang mereka miliki, apa harus yang dilakukan?, Salah satunya adalah mengintegrasikan pembelajaran berdifrensiasi kedalam pembelajaran, dimana pembelajaran harus disesuaikan dengan minat, profil dan kesiapan belajar, sehingga pembelajaran dapat mengakomodir kebutuhan belajar murid.

Selain itu pendekatan Sosial dan Emosional dalam praktek coaching juga sangat diperlukan, Melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan guru, peserta didik akan menemukan kedewasaan dalam proses berfikir melalui kesadaran dan pengelolaan diri, sadar akan kekuatan dan kelemahan yang dimilkinya, mengambil prespektif dari berbagai sudut pandang sehingga sesuatu yang menjadi keputusannya telah didasarkan pada pertimbangan etika, norma sosial dan keselamatan.

Pembelajaran berdiferensiasi yang diintegrasikan dengan pembelajaran social dan emosional memberikan pengalaman menarik karena memberikan dampak positif dalam peningkatan minat belajar murid, guru berkemampuan untuk memahami perasaan, emosi dan nilai-nilai diri sendiri, dengan kesadaran penuh (mindfulness) sehingga lebih focus menjadi pemimpin pembelajaran di kelas, bagaimana mengelola kelas dengan memahami sudut pandang dan berempati dengan murid yang mempunyai kebutuhan belajar dengan latar belakang social yag berbeda, sehingga guru sebagai pemimpin pembelajaran maupun sebagai Kepala Sekolah  dalam dalam setiap pengambilan keputusan selalu ada keberpihakan kepada murid, mengandung kebenaran universal dan nilai-nilai keputusan tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Baik secara moral maupun secara hukum.

Kesimpulan dan Rangkuman dari pembelajaran proses perjalanan pembelajaran saya sampai dengan modul 3.1. Pengambilan Keputusan yang mengandung nilai-nilai kebajikan adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana  filosofi  Ki  Hajar  Dewantara  dengan  Pratap  Triloka  memiliki  kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Tiloka  memberikan ruang bagi perserta didik untuk bertumbuh secara utuh agar mampu menempatkan dirinya dan orang lain ( merdeka batin) dan menjadi mandiri (merdeka lahir), kekuatan diri ( kodrat)  yang dimiliki, cakap mengatur hidupnya tanpa diperintah orang lain. Sebagai pemimpin pembelajaran guru harus mampu memenuhi kebutuhan belajar murid sehingga pada setiap pengambilan keputusan selalu berpihak pada murid mengandung kebenaran unversal dan dapat dipertanggungjawabkan.

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Proses pengambilan keputusan harus berdasar pada keterampilan sosial emosional sehingga dapat menghasilkan keputusan  yang bertanggung jawab, dengan kompetensi  kesadaran diri (self awareness),  manajemen diri  (self management), menumbuhkan empati (social awareness)  dan bagaimana menghargai orang lain  (relationship skills) akan menjadikan pribadi yang dapat memberikan  dorongan secara moril maupun materil bagi semua warga sekolah dan murid-murid.  Nilai-nilai kebajikan yang tertanam dalam diri pendidik akan mewarnai setiap pengambilan keputusaan Nilai kejujuran, integritas sebagi pendidik akan tercermin dalam keteladanan dan kebijakan yang diambil dalam setiap pengambilan keputusan.

3.Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan atas pengambilan keputusan tersebut  Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Keterampilan coaching wajib dimilikioleh guru sebagai pendidik. Hal ini sangat membantu dalam pengambilan keputusan. Pendampingan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) oleh  fasilitator sangat efektif membantu pemahaman saya dalam pengujian pengambilan keputusan. Beberapa contoh praktik coaching yang baik memberi gambaran untuk dapat diterapkan di sekolah. Teknik coaching dengan kemitraan membuat adanya kesetaraan menimbulkan rasa nyaman pada diri coachee 

sehingga coachee lebih leluasa untuk menyampaikan semua pendapat dan memaksimalkan potensi yang ada pada dirinya, dapat menemukan solusi yang sesuai karena coach mampu menjadi pendengar yang baik.  Hal ini penting karena pada akhirnya menciptakan situasi kondusif dan dapat meningkatkan kompetensi peserta didik dan tenaga pendidik. 


4.Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika? 

Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari sosial emosional sangat mempengaruhi pengambilan keputusan.. Sosial emosional akan menumbuhkan empati dan simpati bagi kita sebagai pendidik. Dengan kesadaran sosial emosional guru  merasakan apa yang dibutuhkan murid, dan kita dapat mengidentifikasi permasalahan dengan bijaksana, sehingga dalam pengambilan keputusan selalu berpihak pada murid. Sebagai pemimpin pembelajaran setiap keputusan harus berpihak pada murid, berbasis etika dan nilai kebajikan dengan berpedoman pada  4 paradigma dilema etika, berpegang pada 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan keputusan. 

5.Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik? 

Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika akan semakin mampu mengidentifikasi dan memetakan paradigma dilema etika agar pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Dengan keterampilan sosial emosional  akan sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan tersebut. Selain itu pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika juga dapat melatih ketajaman dan ketepatan dalam pengambilan keputusan, sehingga dapat dengan jelas membedakan antara dilemma etika atau  bujukan moral. Keputusan yang diambil akan semakin akurat dan menjadi keputusan yang berpihak kepada murid, mengandung kebenaran yang universal dan dapat dipertanggungjawabkan.

6.Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?

Keputusan yang tepat akan diterima oleh semua pihak akan menciptakan kondisi lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman. Keputusan yang kita ambil akan dijunjung tinggi dan dilaksanakan sehingga berdampak pada situasi sekolahyang kondusif sehinggatercipta pembelajaran yang aman dan nyaman bagi siswa. Sehingga murid-murid dapat belajar dengan baik dan dapat mengembangkan potensinya. 


7.Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda? 

Prinsip penyelesaian dilema etika: 1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), 2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), 3.  Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking), adalah prisip yang bisa digunakan sebagai perinsip penyelasaian kasus dilema etika, tidakada prinsip yang paling baik tergantung jenis kasus, tempat, siapa yang terlibat didalamnya dan waktu kasus itu terjadi.Yang pasti adalah setiap keputusan selalui ada pihak yang belum tarakomodir kepentingannya. Dan inilah yang menjadi tantangan. Namun dengan 4 paradigma dilema etika, dengan 3 prinsip pengambilan keputusan, serta 9 konsep pengambilandan pengujian keputusan akan merubah paradigma pengambilan keputusan dilingkungan saya.


8.Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda? 

Pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil dengan pengajaran memerdekakan murid -murid adalah mengacu kepada kebutuhan belajar murid.  Dengan keputusan yang berpihak pada pemenuhan kebutuhan belajar murid, diharapkan murid akan bertumbuh sesuai dengan minat dan bakatnya,  akan sukses dengan bidangnya masing-masing, bahagia karena sesuai dengan apa yang diinginkannya dan bertanggungjawab akan apa yang menjadi pilihannya. Dengan kata lain semua pengambilan keputusan harus berpihak pada murid, dan guru berfungsi untuk memfasilitasi, memoles bakat dan minat yang sudah ada. 

9.Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya? 

Setiap pengambilan keputusan akan membawa dampak kepada murid, baik jangka pendek maupun  jangka Panjang. Guru adalah pribadi utuh yang menjadi contoh bagi murid-muridnya, bagaimana kelak murid -murid berpikir dan berpijak. Bagaimana dia mengambil keputusan di masyarakat dikemudian hari. Pengambilan keputusan bagi seorang pendidik harus keputusan yang tepat, walaupun adakalanya berbenturan dengan peraturan yang telah disepakati, namun yang utamanya adalah keputusan itu berpihak kepada murid sebagaimana tujuan peraturan itu dibuat.

10.Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya? 

Kesimpulan akhir yang saya peroleh dari pembelajaran materi ini dan keterkaitannya dengan modul sebelumnya adalah pengambilan keputusan adalah suatu keterampilan yang harus dimiliki oleh guru dengan berpedoman pada  filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran. Guru sebagai pemimpin pembelajaran secara sadar mengambil keputusan bijak, mengacu pada  kesepakatan kelas, keyakinan kelas untuk mewujudkan karakter dan budaya positif sekolah. Kemampuan sosial emosional juga sangat penting dalam pengambilan keputusan Pembelajaran diferensiasi merupakan salah satu bentuk pemenuhan kebutuhan belajar siswa karena dengan pembelajaran berdiferensiasi,  kebutuhan murid terpenuhi sesuai bakat, minat dan kecenderungan gaya belajarnya. 

11.Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan? 

Dalam modul ini saya mempelajari konsep paradigma pengambilan keputusan ada 4, yaitu: Individu lawan masyarakat, kebenaran lawan kesetiaan, keadilan lawan belas kasihan jangka pendek lawan jangka panjang, 3 prinsip pengambilan keputusan (berfikir berbasis akhir, berfikir berbasi aturan, berfikir berbasis  rasa peduli), dan 9 tahapan pengambilan dan pengujian keputusan (mengenali bahwa ada nilai-nilai yang salingbertentangan, menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini, mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dalam situasi ini, pengujian benar atau salah (uji legal, uji regulias, uji instuisi, uji publikasi, uji panutan/idola), pengujian paradigma benar atau salah, prinsip pengambilan keputusan, investigasi tri lema, buat keputusan, meninjau kembali keputusan dan refleksikan

Hal yang menurut saya diluar dugaan adalah bahwa ternyata ada proses yang sangat Panjang sebelum sebuah keputusan itu ada. Ada keterkaitan unsur lain yang harus dipertimbangkan, sehingga keputusan yang dihasilkan benar-benar mengandung kebenaran universal dan dapat dipertanggungjawabkan.


12.Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

 Sebelum mempelajari modul ini saya pernahmengambil keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilemma, namun keputusan itu tidak melaluikajian-kajian khusus, berbeda dengan sekarang setelah mempelajari modul ini, harus mengacu pada 4 paradigma dilemma etika, dan 3 prinsip pengambilan keputusan serta 9 langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan.

13.Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

 Mempelajari konsep ini membawa dampak yang luar biasa pada diri saya, sebelum belajar modul ini keputusan saya ambil berdasarkan pertimbangan seperlunya saja, bagaimana enaknya saja, sehingga adakalanya keputusan tersebut menimbulkan suasana tidak baik. Tetapi dengan mempelajari modul ini  saya lebihyakin dalam membuat keputusan, karena ada tahapan-tahapan pengujian yang bisa digunakan sebelum keputusan dibuat.                                                                                                                                                                                                                                                                                           
14.Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

 Bagi saya materi pada modul 3.1 sangat penting. Guru sebagai pemimpin pembelajaran dan sebagai warga sekolah banyak keputusan yang akan dikeluarkan akan mewarnai perjalanan sekolah untuk mewujudkan merdeka belajar dan profil pelajar Pancasila. Sebagai Kepala Sekolah akan sangat membantu dalam pembuatan keputusan yang dapat diterima oleh semua pihak. Ada keberpihakan kepada murid, dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga tercipta lingkungan poembelajaran yang kondusif, aman nyaman, untuk siswa.