expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Selasa, 23 Oktober 2012

Pendidikan Karakter Menuju Pembelajaran Yang Inklusif

            Pendidikan seperti yang diamanatkan dalam Pasal 31 UUD 1945, adalah hak dari semua warga negara Indonesia dan merupakan kewajiban dari Pemerintah untuk memfasilitasi dan menyediakan kelengkapan sarana dan Prasarananya. Kebijakan Pemerintah dalam penuntasan Wajib Belajar Pendidikan sembilan tahun yang disemangati oleh seruan internasional Education For All yang dipelopori UNESCO, sebagai kesepakatan global hasil World Education Forum Dakar., Sinegal tahun 2000. yang  senafas pula dengan UU No. 20 tahun 2003, tentang pendidikan Nasional.

Berbagai upaya telah dilakukan dari penyediaan lembaga yang standart 'biasa' sampai pada Sekolah RSBI. Demikian juga untuk peserta didik dari anak-anak normal maupun Anak yang berkebutuhan Khusus(ABK) Pengelolaan anggaran di APBN pun tidak main-main,  20% anggaran untuk pendidikan bukanlah jumlah yang sedikit, yang barang tentu didalamnya untuk sarana dan prasarana dan peningkatan kualitas dan perbaikan kesejahteraan guru.

Pendidikan adalah elemen penting dalam pembangunan bangsa, karena dari pendidikanlah karakter bangsa terbentuk. Masih hangat dalam ingatan, bahwa dibeberapa dekade terakhir  kurikulum pendidikan kita sangat 'peduli' dengan pembentukan karakter bangsa. tentu kita semua takkan lupa dengan mata Pelajaran PMP, PSPB sampai pada pembekalan Penataran P4 bagi siswa baru. yang merupakan pengenalan nilai-nilai yang diharapkan nantinya dapat terealisasi dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan kita saat ini cenderung lebih mengedepankan penguasaan aspek keilmuan dan  kecerdasan, namun mengabaikan pendidikan karakter. Pengetahuan tentang kaidah moral yang didapatkan dalam pendidikan moral atau etika di sekolah-sekolah saat ini semakin ditinggalkan. Sebagian orang mulai tidak memperhatikan lagi bahwa pendidikan tersebut berdampak pada perilaku seseorang. Padahal pendidikan diharapkan mampu menghadirkan generasi yang berkarakter kuat, karena manusia sesungguhnya dapat dididik , dan harus sejak dini. Meski manusia memiliki karakter bawaan, tidak berarti karakter itu tak dapat diubah.
Era keterbukaan informasi akibat globalisasi mempunyai faktor-faktor negatif antara lain mulai lunturnya nilai-nilai kebangsaan   yang dianggap sempit seperti patriotisme dan nasionalisme yang dianggap tidak cocok dengan nilai-nilai globalisasi dan universalisasi.

a. Memahami karakter Anak

Sedikit bergeser dari tema di atas, ( penulis merasa terlalu berat......, biar dipikirkan oleh tuan-tuan yang berwenang ),mari  kita bahas yang ringan-ringan saja...

  Pendidikan karakter harus dimulai sejak dini. anak pada masa-masa awal sekolah merupakan individu yang masih mampu mengembangkan kecerdasannya. Mereka tidak bisa diatur dengan kepentingan orang lain. semakin banyak aturan dan larangan, maka semakin banyak pula ia akan kehilangan potensi diri dan kreatifitas. Seseorang tidak akan menjadi manusia yang sejati dan utuh jika sebelumnya dia tidak menjadi sorang anak sejati dan utuh. Dunia anak-anak tentu tidak sama dengan duania dewasa . Pendidikan disekolahpun dirancang sesuai dengan perkembangaan anak.

Setiap anak mempunyai kemampuan yang berbeda. Kesulitan-kesulitan yang dialamipun tidaklah sama. Kesulitan yang sering ditemuai adalah :

 1. Kesulitan pra akademik, yang sering kita temukan adalah anak tidak mampu nmelakukan gerakan tubuh dengan benar walaupun tidak ada kelainan pada tubuh.. Manifestasinya berupa disfasia  verbal (bicara) dan non verbal (menulis, bahasa isyarat).

2. Kesulitan Belajar Akademik. Kesulitan belajar ini diantaranya,         -  kesuliutan membaca(Disleksia),
 -  kesulitan dalammenulis (disgrafia),
 -  kesulitan dalanm berhitung (diskalkulia), 
-   banyakpula  ditemui anakyang berpotensu unggul secara intelektual, namun tidak bisa mewujudkannya dalam prestasi belajar.yang dalam bahasa sehari-hari disebut minder, namun para ahli menyebutnya underachiever.

Underachiever dapat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga yang kurang harmonis, atau dari kebiasaan kita yang dengan mudah memberi label tertentu kepada mereka. (misalnya : jelek, bodoh, dan lain-lain,)
Lingkungan sekolah juga sangat besar pengaruhnya, sebagai akibat dari bentuk interaksi komunikasi guru dan siswa yang kurang tepat.
Selain sekolah dan keluarga, Lingkungan masyarakat juga sangat besar pengaruhnya, jika anak selalu dalam tekanan dan terancam, anak akan mengalami rasa takut yang luar biasa.

b. Metode Pembelajaran

Dengan memahami karakter anak, dalam proses pembelajaran tentunya kita harus menggunakan strategi daan model pembelajaran yang sesuai dengan karakter anak, jika kita menginginkan materi terserap dengan baik oleh anak. Beberapa model pembelajaran yang sering digunakan diantaranya :


 1. Model PAKEM
    Model PAKEM sangat cocok dengan kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi. Bentuk orientasinya adalah pembelajaran yang mengutamakan keaktifan siswa, kreatif, efektif dan dalaam suasana pembelajaran yang menyenangkan.

2.Model Pembelajaran Tematik.
Pembelajaran yang tematik merupakaan pembelajaran terpadu yang melibatkan beberapa mata pelajaran dalam satu pembelajaran. Siswa di ajak memahami konsep-konseop yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung, dan menghubungkannya dengan konseo lain yang sudah mereka pelajari.

3. Model Pembelajaran Kolaborasi.
Colaborative Learning, merupakaan model pembelajaran yang menumbuhkan para siswa bekerjasama  dalam kelompok-kelompok kecil untuk mencapai tujuan yang sama.

4. Model Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual memungkinkan anak berkorelasi antara pelajaran yang diterima dengan pengalaman sehari-hari yang dialami.

Dengan memahami karakter masing-masing siswa,kita bisa memilih model pembelajran yang lebih ideal dan cocok. model pembelajran diatas adalah contoh sebagian kecil, yang sangat memungkinkan kita mempunyai konsep model sendiri yang lebih  mudah diterima oleh siswa.

Dengan model pembelajaran yang tepat, dengan materi yang pas,maka karakter bisa dibentuk,yang pada akhirnya menjadi pribadi yang berimbang. dengan kemampuan akademik yang tinggi dibarengi dengan moral dan akhlak mulia,akan membawa bangsa ke arah yang lebih baik. Bukan bangsa yang semakin terpuruk dengan perilaku anak-anak bangsanya yang hanya mementingkan kepentingan pribadi daan kelompoknya.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar