expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Kamis, 08 Juli 2010

Pendidikan, Sejauh Yang Ku Lihat


Kita dilahirkan untuk belajar. Bagai kertas kosong yang musti di beri warna, layaknya botol kosong yang perlu diisi dengan air. Kertas begitu indah dan berguna ketika ada warnanya, begitu juga botol, bisa menghilangkan rasa haus ketiga ada airnya untuk diminum.

Pendidikan memang mutlak di dapat oleh setiap insan. Ada kalimat-kalimat yang sering kita dengar " Long Life Educations", Carilah Ilmu sampai Ke Negeri Cina" dan masih banyak lagi.

Begitu pentingnya pendidikan Ki Hajar Dewantara pun mempelopori pendidikan untuk bangsa pribumi yang kala itu tak pernah baik nasibnya karena tertindas kolonial.

Dijaman merdeka seperti sekarang dengan kemajuan ilmu Pengetahuan dan Tehnologi yang begitu pesat, pendidikan adalah wajib, seperti tertera dalam Undang-Undang No. 20 Tentang Sisdiknas, Pemerintah mengamanatkan bahwa setiap warga negara usia 7 - 15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.


Indikator program wajar 9 tahun diukur dengan Angka Partisipasi Kasa (APK) Tahun 2005, APK tingkat SMP sebesar 85,22 %, dan akhir 2006 telah mencapai 88,68%. Target penuntasan wajar 9 tahun harus tercapai pada 2008/2009 dengan APK minimum 95%. Dengan demikian, pada saat ini masih ada sekitar 1,5 juta anak usia 13-15 tahun yang masih belum mendapatkan layanan pendidikan dasar.

Dengan dasar inilah Pemerintah mengelontorkan dana Bos untuk meringankan beban rakyat yang rata-rata masih dalam tarap hidup yang miskin.


Bermacam-macam bentuk sekolahpun ditawarkan, Sekolah Standar Nasional, Standar Internasional, sekolah Mercy, Akselerasi, Sekolah Insklusi dan banyak ragam yang lain.

Inikah sebagai bentuk 'Pemisahan' atau ' pengkotak-kotakan' sekolah? Tergantung dari sudut mana kita melihat.


Pendidikan 'murah' belum dirasakan masyarakat. Berbagai beban masih dipikul siswa ketika akan memasuki sekolah, yang notabene digratiskan Pemerintah. Bagi yang mampu kiranya ini tak berarti, namun bagi si miskin setengah mati. Akankah anak-anak mereka bisa menveyam pendidikan SMA, atau Perguruan Tinggi yang sekarang tidak bersubsidi Pemerintah?


Rasanya semboyan 'Educational for all' masih jauh di angan-angan.

Kapan pendidikan yang 'Murah Untuk Semua' dapat kita rasakan?

2 komentar :

  1. Kawit jaman biyen nganti jaman seprene sing bisa sekolah ya sing nde diuut..ya pak ??, mbuh ...yen anakku wayahe Kuliah bapakne njur dodolan apa kiye..??

    BalasHapus
  2. Wis pokoke opo baelah pak, sing penting halal kanggo sangune bocah.
    Awit saiki nabung, sekolah mahal, lulus sekolah golek kerjaan luwih mahal, pa maning PNS-- koyo lelang bae ya pak...
    Sapa sing duwe duwit menang......

    BalasHapus