expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Kamis, 08 Juli 2010

Antara Nasionalisme Dan Materialis



Berbagai kasus kejahatan dan tindak asusila seringkali terjadi di sekeliling kita. Pencurian, kejahatan dengan kekerasan, bentrok antar warga yang hanya dipicu oleh masalah yang kecil, sampai pada kasus korupsi pejabat pemerintah, tindakan 'asu'-sila oleh beberapa public figur kita, tak mau ketinggalan dikalangan akademis pun sering bentrok antar fakultas atau kampus hanya gara-gara masalah sepele, yang kesemuanya menjadi santapan harian kita bahkan anak-anak.

Media elektronik seolah tak ingin ketinggalan 'rejeki,' demi menggaruk iklan mereka berlomba-lomba menayangkan, lewat program infotainmentnya. Siapa yang tak kepincut bila tokoh idolanya diberitakan, apalagi berita yang syur! Tayangan yang samasekali tidak mendidik menjadi santapan harian anak-anak, tak hanya itu entah dari mana asalnya mereka(anak-anak ) rata-rata pernah menonton adegan syur idola lewat telepon seluler yang mereka punya. Waduh... masya Allah... mau jadi generasi kita dimasa mendatang............

Kalau boleh saya berpendapat perbuatan baik dan jahat individu berasal dari mental ( baca: moral ) masing-masing. Moral kita semakin habis terkikis, perbuatan dosa menjadi perilaku biasa, nasionalis dan patriotik menjadi kata yang tak ada makna sama sekali.

Para 'bapak-bapak' kita pun seolah enggan untuk peduli.... Bagaimana tidak ; pelajaran moral disekolah tak begitu 'dipentingkan'. Mungkin pelajaran yang ada hubungannya dengan moral lambat laun akan hilang.

Marilah sejenak kita melihat kebelakang. Pendidikan Moral Pancasila dulu ada, pernah digabung dengan mata pelajaran lain; PKPs ( Pancasila tak begitu penting barangkali ya....), Pendidikan Agama pun mengalami nasib serupa. Kenapa dua mata pelajaran yang akan membentuk pribadi yang baik tidak di UAN-kan?
Sudah menjadi hal yang umum ketika siswa di kelas akhir hanya 'digodog' dengan mata pelajaran UAN! Kalau sudah begini apakah mata pelajaran yang lain tak penting bagi anak-anak?
Ada hal yang barangkali perlu perhatin kita semua, ketika saya menjadi penilai dalam Ujian Praktik menyanyi, anak-anak seolah 'lupa' dengan lagu daerah dan lagu-lagu Nasional. Justru yang mereka bisa adalah lagu komersil yang sekarang lagi 'in'.

Jika dahulu setiap tahun ajaran baru ada Penataran P4, sekarang tak diperlukan lagi, diadakanlah MOS ( maaf kalau tak salah mengartikan ; Masa Orientasi Sekolah )', efektifkah MOS?

Jika kita mau jujur MOS hanyalah ajang balas dendam senior terhadap yuniornya!
Manakah yang lebih banyak nilai positif dan akibat negatif yang anak-anak didik kita rasakan?
Ditingkat yang lebih tinggi mahasiswa kita sering menjadi korban kekerasan seniornya. Siapa yang mesti disalahkan?
Pendidikan moral tak lagi penting, anak cucu kita akan menjadi generasi yang cakap, dengan intelegensi yang tinggi, berhasil dalam hidup, tapi tak bermoral, karena yang akan mereka kejar adalah materi...........
Apa jadinya pembangunan kita jika dikendalikan oleh pribadi yang pintar tanpa moral?

Satu lagi yang sayang untuk ditinggalkan. Marilah bersama kita lihat kegiatan Peringatan hari Kemerdekaan setiap bulan Agustus. Lihatlah pawai karnaval. Pawai yang seharusnya menjadi ajang pameran hasil pembangunan di bumi merdeka... malah menjadi ajang joget dengan iringan musik yang sama sekali nenek moyang kita tak pernah melakukan.

Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah mengunjungi blog ini, hanya sedikit keresahan yang saya sampaikan, tak ada maksud menggurui ataupun menyalahkan, mohon saran dan tanggapan anda.

Terima kasih...........

3 komentar :

  1. Karnawi Umar Bakri, Kragan
    wah....bagus nih blognya....ikut ah !!

    BalasHapus
  2. makasih pak, baru belajar mohon masukannya untuk perbaikan....

    BalasHapus