Minggu, 12 Februari 2023

Koneksi Antar Materi 3.1.a.8.1.Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai Kebajikan Seorang Pemimpin

 


Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Tiloka  memberikan ruang bagi perserta didik untuk bertumbuh secara utuh agar mampu menempatkan dirinya dan orang lain ( merdeka batin) dan menjadi mandiri (merdeka lahir), kekuatan diri ( kodrat)  yang dimiliki, cakap mengatur hidupnya tanpa diperintah orang lain.

Pendidikan yang menitikberatkan pada peningkatan budi pekerti, menempatkan guru menjadi pribadi yang Ing Ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Guru harus mampu menjadi orang tua, dan sahabat. Guru harus menjadi contoh yang digugu dan ditiru, selalu berada ditengah peserta didiknya untuk memberikan semangat dan ide untuk berkarya serta selalu mendorong menuju tujuan yang benar.

“ Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik ” (Bob Talbert)

Pendidikan adalah sebuah proses sintematis dan terencana.  Sebagai pendidik dan sebagai orang tua kita tidak hanya fokus memberi materi pembelajaran dan mengasah kecerdasan intelegensi anak, tetapi juga mengajarkan bagaimana mereka mengasah dan menerapkan kecerdasan spritual, agar mampu membedakan baik dan buruk, penuh kasih sayang, berkarakter. agar memiliki kecerdasan emosional, intelegensi, dan sosial.

Guru adalah penuntun muridnya untuk memaksimalkan potensi yang ada pada dirinya, dan sebagai pemimpin pembelajaran segala keputusan yang diambil harus selalu ada keberpihakan kepada murid, mengandung kebenaran yang universal dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Georg Wilhelm Friedrich Hegel

  “ Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku  etis.” 

Dapat diartikan bahwa Pendidikan merupakan suatu proses menuntun siswa dengan penguatan karakter, norma -norma  sehingga akan menjadi generasi yang memiliki nilai moral, kebajikan dan kebenaran untuk menjalankan kehidupannya. Generasi yang akan datang adalah cerminan pendidikan saat ini yang kita ukir seperti membuat maha karya terbaik yang akan mewarnai negeri ini di masa depan.
Guru adalah  pendidik yang mempunyai kompetensi diri yang ideal,  mengerti dan mampu melaksanakan nilai-nilai yang harus dimiliki oleh seorang guru.
Selanjutnya dengan kompetensi yang dimiliki tersebut, guru bisa menjadi pemimpin pembelajaran di kelasnya, membentuk kepemimpinan murid, menjalin kerjasama dengan lingkungan dan menjadi penggerak pada komunitas dimana dia berada

Ki Hajar Dewantara dengan sistem Among menjadikan guru dalam perannya bukan satu-satunya sumber pengetahuan melainkan sebagai mitra setara peserta didik untuk melejitkan kodrat dan irodat yang mereka miliki, apa harus yang dilakukan?, Salah satunya adalah mengintegrasikan pembelajaran berdifrensiasi kedalam pembelajaran, dimana pembelajaran harus disesuaikan dengan minat, profil dan kesiapan belajar, sehingga pembelajaran dapat mengakomodir kebutuhan belajar murid.

Selain itu pendekatan Sosial dan Emosional dalam praktek coaching juga sangat diperlukan, Melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan guru, peserta didik akan menemukan kedewasaan dalam proses berfikir melalui kesadaran dan pengelolaan diri, sadar akan kekuatan dan kelemahan yang dimilkinya, mengambil prespektif dari berbagai sudut pandang sehingga sesuatu yang menjadi keputusannya telah didasarkan pada pertimbangan etika, norma sosial dan keselamatan.

Pembelajaran berdiferensiasi yang diintegrasikan dengan pembelajaran social dan emosional memberikan pengalaman menarik karena memberikan dampak positif dalam peningkatan minat belajar murid, guru berkemampuan untuk memahami perasaan, emosi dan nilai-nilai diri sendiri, dengan kesadaran penuh (mindfulness) sehingga lebih focus menjadi pemimpin pembelajaran di kelas, bagaimana mengelola kelas dengan memahami sudut pandang dan berempati dengan murid yang mempunyai kebutuhan belajar dengan latar belakang social yag berbeda, sehingga guru sebagai pemimpin pembelajaran maupun sebagai Kepala Sekolah  dalam dalam setiap pengambilan keputusan selalu ada keberpihakan kepada murid, mengandung kebenaran universal dan nilai-nilai keputusan tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Baik secara moral maupun secara hukum.

Kesimpulan dan Rangkuman dari pembelajaran proses perjalanan pembelajaran saya sampai dengan modul 3.1. Pengambilan Keputusan yang mengandung nilai-nilai kebajikan adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana  filosofi  Ki  Hajar  Dewantara  dengan  Pratap  Triloka  memiliki  kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Tiloka  memberikan ruang bagi perserta didik untuk bertumbuh secara utuh agar mampu menempatkan dirinya dan orang lain ( merdeka batin) dan menjadi mandiri (merdeka lahir), kekuatan diri ( kodrat)  yang dimiliki, cakap mengatur hidupnya tanpa diperintah orang lain. Sebagai pemimpin pembelajaran guru harus mampu memenuhi kebutuhan belajar murid sehingga pada setiap pengambilan keputusan selalu berpihak pada murid mengandung kebenaran unversal dan dapat dipertanggungjawabkan.

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Proses pengambilan keputusan harus berdasar pada keterampilan sosial emosional sehingga dapat menghasilkan keputusan  yang bertanggung jawab, dengan kompetensi  kesadaran diri (self awareness),  manajemen diri  (self management), menumbuhkan empati (social awareness)  dan bagaimana menghargai orang lain  (relationship skills) akan menjadikan pribadi yang dapat memberikan  dorongan secara moril maupun materil bagi semua warga sekolah dan murid-murid.  Nilai-nilai kebajikan yang tertanam dalam diri pendidik akan mewarnai setiap pengambilan keputusaan Nilai kejujuran, integritas sebagi pendidik akan tercermin dalam keteladanan dan kebijakan yang diambil dalam setiap pengambilan keputusan.

3.Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan atas pengambilan keputusan tersebut  Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Keterampilan coaching wajib dimilikioleh guru sebagai pendidik. Hal ini sangat membantu dalam pengambilan keputusan. Pendampingan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) oleh  fasilitator sangat efektif membantu pemahaman saya dalam pengujian pengambilan keputusan. Beberapa contoh praktik coaching yang baik memberi gambaran untuk dapat diterapkan di sekolah. Teknik coaching dengan kemitraan membuat adanya kesetaraan menimbulkan rasa nyaman pada diri coachee 

sehingga coachee lebih leluasa untuk menyampaikan semua pendapat dan memaksimalkan potensi yang ada pada dirinya, dapat menemukan solusi yang sesuai karena coach mampu menjadi pendengar yang baik.  Hal ini penting karena pada akhirnya menciptakan situasi kondusif dan dapat meningkatkan kompetensi peserta didik dan tenaga pendidik. 


4.Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika? 

Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari sosial emosional sangat mempengaruhi pengambilan keputusan.. Sosial emosional akan menumbuhkan empati dan simpati bagi kita sebagai pendidik. Dengan kesadaran sosial emosional guru  merasakan apa yang dibutuhkan murid, dan kita dapat mengidentifikasi permasalahan dengan bijaksana, sehingga dalam pengambilan keputusan selalu berpihak pada murid. Sebagai pemimpin pembelajaran setiap keputusan harus berpihak pada murid, berbasis etika dan nilai kebajikan dengan berpedoman pada  4 paradigma dilema etika, berpegang pada 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan keputusan. 

5.Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik? 

Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika akan semakin mampu mengidentifikasi dan memetakan paradigma dilema etika agar pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Dengan keterampilan sosial emosional  akan sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan tersebut. Selain itu pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika juga dapat melatih ketajaman dan ketepatan dalam pengambilan keputusan, sehingga dapat dengan jelas membedakan antara dilemma etika atau  bujukan moral. Keputusan yang diambil akan semakin akurat dan menjadi keputusan yang berpihak kepada murid, mengandung kebenaran yang universal dan dapat dipertanggungjawabkan.

6.Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?

Keputusan yang tepat akan diterima oleh semua pihak akan menciptakan kondisi lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman. Keputusan yang kita ambil akan dijunjung tinggi dan dilaksanakan sehingga berdampak pada situasi sekolahyang kondusif sehinggatercipta pembelajaran yang aman dan nyaman bagi siswa. Sehingga murid-murid dapat belajar dengan baik dan dapat mengembangkan potensinya. 


7.Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda? 

Prinsip penyelesaian dilema etika: 1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), 2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), 3.  Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking), adalah prisip yang bisa digunakan sebagai perinsip penyelasaian kasus dilema etika, tidakada prinsip yang paling baik tergantung jenis kasus, tempat, siapa yang terlibat didalamnya dan waktu kasus itu terjadi.Yang pasti adalah setiap keputusan selalui ada pihak yang belum tarakomodir kepentingannya. Dan inilah yang menjadi tantangan. Namun dengan 4 paradigma dilema etika, dengan 3 prinsip pengambilan keputusan, serta 9 konsep pengambilandan pengujian keputusan akan merubah paradigma pengambilan keputusan dilingkungan saya.


8.Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda? 

Pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil dengan pengajaran memerdekakan murid -murid adalah mengacu kepada kebutuhan belajar murid.  Dengan keputusan yang berpihak pada pemenuhan kebutuhan belajar murid, diharapkan murid akan bertumbuh sesuai dengan minat dan bakatnya,  akan sukses dengan bidangnya masing-masing, bahagia karena sesuai dengan apa yang diinginkannya dan bertanggungjawab akan apa yang menjadi pilihannya. Dengan kata lain semua pengambilan keputusan harus berpihak pada murid, dan guru berfungsi untuk memfasilitasi, memoles bakat dan minat yang sudah ada. 

9.Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya? 

Setiap pengambilan keputusan akan membawa dampak kepada murid, baik jangka pendek maupun  jangka Panjang. Guru adalah pribadi utuh yang menjadi contoh bagi murid-muridnya, bagaimana kelak murid -murid berpikir dan berpijak. Bagaimana dia mengambil keputusan di masyarakat dikemudian hari. Pengambilan keputusan bagi seorang pendidik harus keputusan yang tepat, walaupun adakalanya berbenturan dengan peraturan yang telah disepakati, namun yang utamanya adalah keputusan itu berpihak kepada murid sebagaimana tujuan peraturan itu dibuat.

10.Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya? 

Kesimpulan akhir yang saya peroleh dari pembelajaran materi ini dan keterkaitannya dengan modul sebelumnya adalah pengambilan keputusan adalah suatu keterampilan yang harus dimiliki oleh guru dengan berpedoman pada  filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran. Guru sebagai pemimpin pembelajaran secara sadar mengambil keputusan bijak, mengacu pada  kesepakatan kelas, keyakinan kelas untuk mewujudkan karakter dan budaya positif sekolah. Kemampuan sosial emosional juga sangat penting dalam pengambilan keputusan Pembelajaran diferensiasi merupakan salah satu bentuk pemenuhan kebutuhan belajar siswa karena dengan pembelajaran berdiferensiasi,  kebutuhan murid terpenuhi sesuai bakat, minat dan kecenderungan gaya belajarnya. 

11.Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan? 

Dalam modul ini saya mempelajari konsep paradigma pengambilan keputusan ada 4, yaitu: Individu lawan masyarakat, kebenaran lawan kesetiaan, keadilan lawan belas kasihan jangka pendek lawan jangka panjang, 3 prinsip pengambilan keputusan (berfikir berbasis akhir, berfikir berbasi aturan, berfikir berbasis  rasa peduli), dan 9 tahapan pengambilan dan pengujian keputusan (mengenali bahwa ada nilai-nilai yang salingbertentangan, menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini, mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dalam situasi ini, pengujian benar atau salah (uji legal, uji regulias, uji instuisi, uji publikasi, uji panutan/idola), pengujian paradigma benar atau salah, prinsip pengambilan keputusan, investigasi tri lema, buat keputusan, meninjau kembali keputusan dan refleksikan

Hal yang menurut saya diluar dugaan adalah bahwa ternyata ada proses yang sangat Panjang sebelum sebuah keputusan itu ada. Ada keterkaitan unsur lain yang harus dipertimbangkan, sehingga keputusan yang dihasilkan benar-benar mengandung kebenaran universal dan dapat dipertanggungjawabkan.


12.Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

 Sebelum mempelajari modul ini saya pernahmengambil keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilemma, namun keputusan itu tidak melaluikajian-kajian khusus, berbeda dengan sekarang setelah mempelajari modul ini, harus mengacu pada 4 paradigma dilemma etika, dan 3 prinsip pengambilan keputusan serta 9 langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan.

13.Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

 Mempelajari konsep ini membawa dampak yang luar biasa pada diri saya, sebelum belajar modul ini keputusan saya ambil berdasarkan pertimbangan seperlunya saja, bagaimana enaknya saja, sehingga adakalanya keputusan tersebut menimbulkan suasana tidak baik. Tetapi dengan mempelajari modul ini  saya lebihyakin dalam membuat keputusan, karena ada tahapan-tahapan pengujian yang bisa digunakan sebelum keputusan dibuat.                                                                                                                                                                                                                                                                                           
14.Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

 Bagi saya materi pada modul 3.1 sangat penting. Guru sebagai pemimpin pembelajaran dan sebagai warga sekolah banyak keputusan yang akan dikeluarkan akan mewarnai perjalanan sekolah untuk mewujudkan merdeka belajar dan profil pelajar Pancasila. Sebagai Kepala Sekolah akan sangat membantu dalam pembuatan keputusan yang dapat diterima oleh semua pihak. Ada keberpihakan kepada murid, dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga tercipta lingkungan poembelajaran yang kondusif, aman nyaman, untuk siswa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar