expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Senin, 07 Mei 2012

Refleksi Hardiknas : Cermin Pendidikan Kita


Tanpa terasa perjalanan di tahun 2012 telah menginjak pada bulan ke Lima. Tepatnya Mei. Di bulan ini ada tokoh besar negeri ini dilahirkan. Tentu kita ingat Nama Ki Hajar Dewantara.
Bulan lalu ada juga tokoh besar pendidikan juga di lahirkan, yang tak lain  adalah Raden Ajeng Kartini. Yang mungkin untuk sementara orang hanyalah sebatas peringatan yang seremonial yang identik dengan memakai pakaian adat Jawa ala Kartini.
Kedua tokoh diatas adalah pejuang dan perintis Pendidikan Bangsa. Ki Hadjar Dewantara dikenal sebagai tokoh yang berjuang untuk member jawaban terhadap pertanyaan:”Pendidikan apakah yang cocok untuk anak-anak Indonesia?”
Jawaban yang paling tepat adalah Pendidikan Nasional.
Sedikit melongok kebelakang usaha Pendidikan Nasional tersebut telah dimulai pada  3 Juli 1922, dengan mendirikan perguruan Kebangsaan Taman Siswa yang pertama di Yogyakarta. Dengan nama National Onderwijs Instituut Taman Siswa (Lembaga Pendidikan Nasional Taman Siswa )
Perguruan Kebangsaan Taman Siswa sangat menarik cendekiawan dalam dan luar negeri, banyak yang datang ke Yogyakarta atau cabang-cabang Taman Siswa lainnya untuk mempelajari, mengerti, dan mendalami cita-cita, konsepsi dan hasil usaha Ki Hadjar Dewantara dan kawan-kawannya.Diantaranya dari Negeri Belanda, Inggris, Australia, Jepang, Amerika Serikat, dan lainnya. Bahkan pada jaman penjajahan Belanda, seorang pujangga besar India, Rabindranath Tagore, menyempatkan diri untuk mengunjungi Taman Siswa di Yogyakarta.
Melalui perguruan Taman siswa Ki Hadjar Dewntara mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk kepentingan nusa dan bangsa. Taman Siswa melaksanakan kerja duta dan  kerja membantu. Tugas yang pertama dimaksudkan untuk mendidik rakyat agar berjiwa kebangsaan dan dan berjiwa merdeka, untuk menjadi kader-kader yang sanggup dan mampu mengengkat derajat nusa dan bangsanya sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang merdeka. Kedua kerja membantu dimaksudkan untuk  membantu perluasan pendidikan dan penghajaran pada saat yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak.
Semboyan ; Suci Tata Ngesti Tunggal, Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Ngarsa Mangun Karsa, Tut Wuri Andayani, Mengabdi kepada sang Anak, adalah semboyan yang sangat dipegang teguh oleh pamong-pamong Taman Siswa yang melaksanakan tugasnya.
Secara sederhana dapat diartikan bahwa dimanapun kita berada harus mampu memposisikan diri bisa bermanfaat kepada orang lain disekitar. Dapat menjadi contoh dengan perilaku-perilaku yang baik, memberikan semangat ditengah-tengah masyarakat untuk lebih giat dalam berkarya, dan selalu menjadi motivator yang ‘handayani. Yang barang tentu dengan motivasi-motivasi yang bisa dipertanggungjawabkan.
Jika kita sedikit ‘berkaca’ sudahkan semboyan-semboyan diatas ada pada diri kita?
Kemudian sudahkah pendidikan kita sekarang  sesuai dengan cita-cita Kartini dan Ki Hadjar Dewantara?  Jawaban setiap kita tidaklah sama tergantung dari sudut mana mereka memandang. Lembaga pendidikan sudah merata sampai ke pelosok negeri. Baik yang negeri atau swasta. Mulai dari tingkat Dasar sampai pada Perguruan Tinggi.
Murahkah?
Terjangkaukah beaya pendidikan untuk rakyat miskin?
Dengan tujuan peningkatan mutu pendidikan banyak sekali Rintisan sekolah Standar Nasional, bahkan rintisan Sekolah Berstandar Internasional. Yang pasti terjadi adalah meningkatnya beaya pendidikan. Sehingga makin jauh dari semangat aksebilitasnya bagi kaum miskin. Sekolah “bermutu” hanyalah untuk anak-anak yang orang tuanya berkantong tebal.
Ada yang mengatakan pendidikan bagaikan komoditas yang bisa dijadikan bisnis mencari keuntungan. Bisa kita lihat pada tahun ajaran baru nanti, untuk daftar ulang di SMP,mencapai ratusan ribu, SMA negeri saja berjuta-juta  dan harus tunai. Belum lagi masuk di Perguruan Tinggi tentu lebih jauh berlipat-lipat…..
Mungkin saja jika R.A. Kartini dan Ki Hadjar Dewantara masih hidup,mereka akan sangat prihatin melihat rakyatnya masih banyak yang belum bisa menikmati pendidikan seperti apa yang mereka cita-citakan.
            Akhirnya memelui peringatan Hari Pendidikan tahun ini,marilah sama-sama lebih peduli terhadap dunia pendidikan, yang barang tentu melalui kemampuan kita masing-masing.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar