
Bulan lalu ada juga tokoh besar pendidikan juga di lahirkan, yang
tak lain adalah Raden Ajeng Kartini. Yang
mungkin untuk sementara orang hanyalah sebatas peringatan yang seremonial yang
identik dengan memakai pakaian adat Jawa ala Kartini.
Kedua tokoh diatas adalah pejuang dan perintis Pendidikan Bangsa. Ki
Hadjar Dewantara dikenal sebagai tokoh yang berjuang untuk member jawaban
terhadap pertanyaan:”Pendidikan apakah yang cocok untuk anak-anak Indonesia?”
Jawaban yang paling tepat adalah Pendidikan Nasional.
Sedikit melongok kebelakang usaha Pendidikan Nasional tersebut telah
dimulai pada 3 Juli 1922, dengan
mendirikan perguruan Kebangsaan Taman Siswa yang pertama di Yogyakarta. Dengan
nama National
Onderwijs Instituut Taman Siswa (Lembaga
Pendidikan Nasional Taman Siswa )
Perguruan Kebangsaan Taman Siswa sangat menarik cendekiawan dalam dan
luar negeri, banyak yang datang ke Yogyakarta atau cabang-cabang Taman Siswa
lainnya untuk mempelajari, mengerti, dan mendalami cita-cita, konsepsi dan
hasil usaha Ki Hadjar Dewantara dan kawan-kawannya.Diantaranya dari Negeri
Belanda, Inggris, Australia, Jepang, Amerika Serikat, dan lainnya. Bahkan pada
jaman penjajahan Belanda, seorang pujangga besar India, Rabindranath Tagore,
menyempatkan diri untuk mengunjungi Taman Siswa di Yogyakarta.

Semboyan ; Suci Tata Ngesti
Tunggal, Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Ngarsa Mangun Karsa, Tut Wuri Andayani,
Mengabdi kepada sang Anak, adalah semboyan yang sangat dipegang teguh oleh
pamong-pamong Taman Siswa yang melaksanakan tugasnya.
Secara sederhana dapat diartikan bahwa dimanapun kita berada harus
mampu memposisikan diri bisa bermanfaat kepada orang lain disekitar. Dapat
menjadi contoh dengan perilaku-perilaku yang baik, memberikan semangat
ditengah-tengah masyarakat untuk lebih giat dalam berkarya, dan selalu menjadi
motivator yang ‘handayani. Yang barang
tentu dengan motivasi-motivasi yang bisa dipertanggungjawabkan.
Jika kita sedikit ‘berkaca’ sudahkan semboyan-semboyan diatas ada
pada diri kita?
Kemudian sudahkah pendidikan kita sekarang sesuai dengan cita-cita Kartini dan Ki Hadjar Dewantara? Jawaban setiap kita tidaklah sama tergantung
dari sudut mana mereka memandang. Lembaga pendidikan sudah merata sampai ke
pelosok negeri. Baik yang negeri atau swasta. Mulai dari tingkat Dasar sampai
pada Perguruan Tinggi.
Murahkah?
Terjangkaukah beaya pendidikan untuk rakyat miskin?
Dengan tujuan peningkatan mutu pendidikan banyak sekali Rintisan
sekolah Standar Nasional, bahkan rintisan Sekolah Berstandar Internasional. Yang
pasti terjadi adalah meningkatnya beaya pendidikan. Sehingga makin jauh dari
semangat aksebilitasnya bagi kaum miskin. Sekolah “bermutu” hanyalah untuk
anak-anak yang orang tuanya berkantong tebal.

Mungkin saja
jika R.A. Kartini dan Ki Hadjar Dewantara masih hidup,mereka akan sangat
prihatin melihat rakyatnya masih banyak yang belum bisa menikmati pendidikan
seperti apa yang mereka cita-citakan.
Akhirnya memelui peringatan Hari
Pendidikan tahun ini,marilah sama-sama lebih peduli terhadap dunia pendidikan,
yang barang tentu melalui kemampuan kita masing-masing.