expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Kamis, 25 Agustus 2011

Kemiskinan Yang Membanggakan



Kemiskinan adalah satu kata atau keadaan yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Orang-orang disekitar kita, atau barangkali kita sendiri sedang berada di dalamnya.

Kemiskinan identik dengan kekurangan, suatu keadaan yang serba kurang dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, susah makan, tempat tinggal yang kumuh, pakaian yang compang-camping, atau barangkali potret kemiskinan Jakarta adalah perkampungan yang berada di pinggiran sungai yang penuh dengan sampah, rumah yang kecil-kecil dari kardus, warganya sebagian besar pemulung, dengan lingkungan yang serba kotor.

Dari awal berdirinya Republik ini, perang yang paling berat adalah melawan kemiskinan. Begitu beratkan sehingga sebuah negara yang nota bene kaya raya, gemah ripah loh jinawi ini berusaha mengalahkannya?
Nyatanya di tahun 2011, bertepatan dengan usia Republik yang ke 66 tahun, kemiskinan masih gagah berdiri, bahkan semakin menguasai bangsa ini.

Jika kita semua mau jujur, sebenarnya kita sendiri yang senang menjadi miskin, kita simak beberapa hal di bawah ini :

1. kenapa kita yang seharusnya tidak berhak masih mau menerima raskin?, atau kenapa kita dengan tanpa rasa malu jika rumah kita ditempel stiker miskin?

2. Lihatlah ketika kita bepergian ketika ada jalan yang berlubang, dengan alasan memperbaiki kitapun tak sungkan meminta "imbal jasa". sebenarnya apa yang telah kita berikan pada pengguna jalan?

3. Ketika kita membangun Masjid, dengan tanpa ragu kitapun 'meminta-minta' pada pengguna jalan.

4. ketika kita berada di kendaraan umum, atau berhenti di lampu merah, tanpa ragu kita pun 'meminta-minta' dari jasa yang kita berikan walau mereka sama sekali tidak menghendaki.

5. Bagi kita yang berprofesi sebagai 'driver' tentunya tak terlalu asing jika ada petugas yang dengan tanpa malu sedikitpun 'meminta' sekedar uang rokok atau untuk sarapan.

6. Dalam pencarian pekerjaan kita pun 'dimintai' sejumlah uang untuk dapat diterima. ( walaupun hal ini sangat sulit untuk dibuktikan)

7. Mungkin jika kita pernah menerima bantuan dari pemerintah atas proposal yang pernah kita ajukan, dimeja tertertupun dengan sikap yang 'biasa' meminta.

Beberapa contoh perilaku di atas adalah sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari, atau barangkali kita sendiri adalah pelakunya?

Jika kita miskin tetapi mempunyai pesawat televisi di rumah, atau pernah menemukan koran bekas yang ada berita tentang korupsi pejabat atau anggota Dewan wakil Rakyat yang terhormat, menyikat uang rakyat dengan berjamaah.?
Jujur itulah berita yang kini lagi hangat. Benarkah para pejabat kita pada miskin? Apakah gaji yang diberikan negara kepadanya masih kurang? Kehidupan mereka tentu bukan diperumahan kumuh pinggir kali, merekapun bukan pemulung atau tukang semir sepatu..........
Tentu jika kita yang 'wong cilik' ini memberi label miskin kepada mereka adalah hal yang kurang ajar....karena dengan segala fasilitas negara mereka dapatkan, tetapi kenapa mereka lebih suka menganggap dirinya miskin.......??.( kalau tidak miskin tak mungkin toh menyikat uang negara ).

Ternyata 'kemiskinan' adalah musuh yang sulit untuk dikalahkan, karena miskin itu sudah berada dalam jiwa kita sendiri. Jika kita tidak berusaha memeranginya, maka berbahagialah dengan segala kemiskinan yang kita punyai.

Dalam usia yang ke 66 Republik tercinta, yang betepatan dengan bulan Puasa marilah kita sedikit demi sedikit 'membuang'kemiskinan di diri kita. Syukur dengan apa yang diberikan Allah kepada kita akan menghilangkan 'rasa selalu miskin' yang melilit diri.

Janganlah berangan-angat mengangkat beban yang diluar kemampuan, karena disaat itulah kemiskinan itu kembali datang...........





Tidak ada komentar :

Posting Komentar