expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Sabtu, 07 Agustus 2010

Nasionalisme di Era Globalisasi


Bulan Agustus telah kita jalani. Agustus bagi Bangsa kita adalah bulan " keramat "
Bangsa kita melepaskan diri dari belenggu tirani penjajah dibulan ini. Selama berabad-abad kita diperbudak bangsa lain. Kekayaan kita di jarah, harga diri diinjak-injak, keringatpun berbau darah.


Beruntunglah kita dilahirkan di era yang sudah merdeka. Nenek moyang kitalah yang merasakan pahit getir penjajahan kolonial.


Tapi benarkah kita sekarang sudah merdeka?

Apa arti kemerdekaan bagi kita sekarang ini?

Apa yang dapat kita perbuat dibumi yang merdeka ini? Lalu apa arti " bulan keramat " Agustus ini?

Apa yang telah kita perbuat untuk negara yang kita cinta ini, yang dengan susah dan payah diperjuangkan oleh pendahulu kita dengan tetesan darah, dan pengorbanan harta benda.....


Marilah dibulan ini kita kembali tumbuhkan semangat nasionalis, marilah kita berbuat untuk negara dengan kemampuan kita masing-masing.


Pada Ulang Tahun yang ke-65 ini kita bersama-sama merayakan arti dari negara yang bebas merdeka menuju pembangunan demi kemajuan bangsa. Dimana-mana gebyar peringatan di gelar. Ada lomba, ada pameran/ekspo hasil-hasil pembangunan, karnaval, dan jika kita keluar malam hari ada berbagai lampu hias warna-warni di sepanjang jalan, pertokoan, perkantoran, bahkan tempat-tempat hiburan malam. Semuanya indah, gegap gempita seolah menyambut datangnya hari yang penuh dengan kegembiraan dan kemenangan.


Melihat pawai karnaval membuat hati kita bangga, begitu semangat semua persertanya, berikut penonton yang memenuhi jalan. Semua instansi pemerintah berperanserta dengan menampilkan visi dan misi yang diemban, tak ketinggalan pula berbagai ormas, juga sekolah-sekolah, semua penuh semangat.


Selain bangga, ada kekawatiran saya ketika melihat peserta dari ' beberapa' sekolah. Sempat saya berfikir kog yang di usung hanya tumpukan sound sistem diatas tronton, dengan anak-anak yang menyanyi lagu-lagu komersil yang lagi 'in' sekarang ini.


Lalu lagu-lagu kebangsaan kita pada kemana yah? Kenapa sekolah yang merupakan ' kawah candradimuka'nya generasi -- berpenampilan seperti itu? Ada juga peserta dari remaja. Saya juga sempat bingung dengan kostum yang mereka pakai, seolah tak mau kalah mereka pun membawa tumpukan Sound system yang lumayan besar; dengan percaya diri mereka berjoget ala ' preman mabuk'. Inikah wujud dari penafsiran makna bangsa yang merdeka?

Apapun yang mereka lakukan adalah wujud dari apresiasi mereka terhadap makna kemerdekaan, tentu kita hargai. Akan tetapi kenapa ' si kawah candradimuka" seolah ikut larut dalam hal-hal seperti ini?


Tentu ini adalah sebahagian kecil sekolah, dan hanya di tempat kami mudah-mudahan di tempat lain tidak.


Mungkin semangat patriotik nasionalis sudah mengalami pergeseran, atau barangkali sudah luntur??? Kalau kita mau jujur -- anak-anak kita yak lagi suka lagu-lagu kebangsaan, marilah kita lihat ketika ujian nakhir sekolah yang mewajibkan setiap anak untuk menyanyikan lagu wajib. Apa yang terjadi?? Kebanyakan anak-anak kita begitu susah untuk menyanyikannya.


Gambaran diatas adalah realita yang ada disekeliling kita, marilah dengan senmangat 17 Agustus ini kita mulai membangun kembali 'rel-rel yang sudah mleot' marilah bersama kita luruskan kembali agar Negarayang kita cintai ini tidak kehilangan jati diri. Marilah kita jaga budaya kita yang adi luhung. Jangan hanya gusar ketika ada negara lain dengan enaknya 'me ngambil' milik kita!!!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar