Label

Senin, 11 Maret 2013

Ubay Marto


Ubay Marto .
Begitulah nama yang tertulis di KTP.  Orang-orang memanggilku cukup singkat, Ubay. Kata Ubay sendiri tak dapat kumengerti dengan jelas artinya. Sedangkan Marto adalah nama Bapakku. Mungkin  dengan menempelkan namanya dibelakang namaku bapak berharap supaya aku selalu mengingatnya, dan selalu berbakti kepadanya.

Walaupun nama di KTP tertulis Marto, namun orang-orang lebih mengenal dengan nama Marto Bakri.
Pernah kutanyakan kenapa namanya tidak sama dengan yang ada di KTP. Waktu kutanyakan dengan simbok, jawabnya adalah dulu sebelum krisis moneter pada 1997, ternyata bapak pernah berjualan kripik singkong. Karena tidak bisa mengejar harga minyak goreng yang terus melangit akhirnya bapak K.O. alias bangrut dan memilih pensiun dari bakul  kripik.

            Penghidupan sehari-hari kami ditopang dengan sepetak sawah yang diperoleh orang tuaku dari bapaknya, alias simbahku. Tak cukup luas, dan tak cukup pula untuk beaya hidup kamu sehari-hari. Masih lekat dalam ingatanku semasa kecil bapak sering mblandong. Mblandong adalah bahasa kami untuk mengambil kayu dihutan milik pemerintah. Mungkin jika diartikan dengan bahasa sekarang adalah ‘Ilegal Loging’. Dua kata yang berbeda namun  mempunyai arti yang sama. Yang membedakan adalah jika mblandong dilakukan untuk mengamankan  perut manusia, tetapi ilegal loging dilakukan untuk mengaamankan pemilik perut buncit.

            Dengan penghasilan bapak yang tidak pasti, kami adalah keluarga miskin. Namun  walau miskin kami cukup bersyukur karena rumah kami tidak ditempel stiker miskin. Karena memang waktu itu itu pemerintah belum berfikir tentang stiker miskin.  Beruntung juga kami semua selalu sehat karena waktu itu belum ada JKRS atau ASKESKIN, keberuntungan sekanjutnya adalah kami cukup makan dengan nasi jagung karena waktu itu belum ada RASKIN.

            Walaupun kurang gizi, kata orang-orang dulu sekolahku cukup pintar (dan ketika masih kutemukan rapor SD memang nilainya bagus-bagus) Hal yang paling berkesan adalah ketika kelulusan SMP. Ternyata  aku adalah peringkat ke 3 dari 191 siswa kelas paralelku waktu itu. Sudah menjadi kebiasaan disekolah kami setiap pengumuman kelulusan sekaligus perpisahan sekolah kami selalu mengadakan pentas Kethoprak yang dilakonkan oleh siswa-siswi.. Diatas panggung kami didampingi orang tua masing-masing disaksikan ratusan pasang mata dari semua siswa dan wali murid undangan.

            Dengan nilai bagus aku dengan mudah diterima di sebuah SMA. Dengan penuh perjuangan, aku lulus tepat waktu.  Sesaat ada rasa syukur, bangga, karena nilaiku bagus juga. Namun kebanggaanku musti kuhapus pelan, namun pasti. Karena tanpa kuliah kumusti menganggur, dan untuk kuliah jelas suatu hal yang tidak mungkin.
Sempat aku berfikir,” Kenapa aku tidak bisa sama dengan yang lain.”
Akupun mennyumbang satu angka untuk jumlah pengangguran dinegeri ini. Tak mau menjadi pengangguran murni, aku kesana-kemari bekerja serabutan. Maklum ijazah SMA tak cukup untuk bersaing dibursa pelamar kerja.

            Beberapa tahun kemudian ada kabar bahwa ada perkuliahan jarak jauh yang diadakan di kota kabupaten. Dengan perkuliahan yang tidak setiap hari, aku berharap bisa kuliah sambil bekerja. Waktu 2,5 tahun aku selesaikan perkuliahan dengan sebutan Ama Pd. Atau kurang lebih artinya Sarjana Muda Pendidikan SD.
Bangga, haru, ternyata aku sekarang adalah seorang guru, walaupun GTT. Syukur karena aku masih diterima wiyata bakti di desaku sendiri. Karena jika tidak predikat penganggur pasti kembali kusandang, karena mencari tempat GTT sama sulitnya melamar menjadi pegawai negeri. Aku berkeyakinan dengan mengabdi disekolah akan membuka jalan untuk sebuah pekerjaan mulia.

 Menjadi Guru!

            Aku telaten walaupun dengan honor Rp. 150.000.- sebulan. Tentu nilai ini tidak cukup untuk kebutuhan satu bulan walau aku masih sendiri alias bujangan.  Jujur aku kepegin  pada bapak dan ibu  guru yang lain, gaji mereka sudah besar, ditambah lagi dengan penerimaan uang sertifikasi.

 Tahun ini teman GTT satu sekolah ada yang lolos seleksi CPNS.
 Beruntung sekali dia.
Padahal belum genap setahun dia lulus kuliah.
Aku tak mau percaya  isu bahwa dia adalah  angkatan 90.
Angakatn 90?
Apa itu?
Entahlah aku berfikir positif saja, yang jelas  dia lebih beruntung dari pada aku.
 Yang lebih utama adalah aku musti ikhlas, karena aku tidak punya apa-apa, tidak punya siapa-siapa, bahkan tak kenal siapa-siapa yang bisa membantu aku.

Dari itulah sering kuterima perlakuaan yang tidak adil.
Biar, biarlah, pasti ada jalan lain yang lebih utama untuk sebuah keihklasan.

Walau jauh dari kota \sekolahku sudaah mempunyai jaringan internet sendiri.
Disinilah aku mengenal apa itu internet, aku pun menjadi berkenalaan dengan mbah Gegloo yang pinternya pakai banget,  bang Yohaa yang bisa membantu bercakap jarak jauh dengan kelihatan gambar, juga dengan pamaan Pesbuk yang bisa membantu mencari banyak teman.

Di dunia maya akupun berganti nama Umar Bakri.
Umar dari Ubay Marto,
Bakri dari Bakul Kripik,

Klop banget kayaaknya ya…?
Jadi ingat Lagu Oemar Bakrinya Bang Iwan.
Semoga nasibku kelak tidak seperti dalam isi lagu itu. Paling tidak aku adalah Umar Bakri era kekinian yang kesanaa kemari mententeng laptop ( walau ini adalah milik sekolah ).]
 Memanfaatkan jaringan Wi-Fi yang ada disekolah, sering ketika itu kubawa komputer kecil ini kubawa di kelas.
 Sementara anak aku suruh mengerjakan LKS, aku membuka situs jejaring social, harap maklum saja waktu itu aku adalaah pecandu yang setiap saat Update status.

Untung saja ini tidak berjalan lama kupikir aku tidak adil dengan siswa-siswiku. Akupun bertekad menjadi Umar Bakri kekinian yang patuh terhadap profesi, walaupun aku ini tidak siapa-siapa, tidakpunya apa-apa, dan  mengenal siapa-siapa, dan jika benar ada angkatan 90 kelak…..maka dengan sangat meyakinkan,  selamanya aku hanya akan menjadi penonton yang suatu saat  terkena pukulan telak, dan .....................TERGELETAK!!!!!…..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar