Label

Kamis, 15 Juli 2010

Mengelola Sekolah Inklusi Yang terintegrasi Dengan MBS






  • Pendidikan Inklusi mengakomodasikan proses pembelajaran yang mengutamakan pelayanan dan penanganan terhadap anak yang berkemampuan tidak sama.

    Everyone is Different! Satu hal yang tidak dapat dielakkan, meski pada anak kembar sekalipun. Perbedaan jangan dijadikan sebagai penanda (labeling )Pemberian label tertentu hanya akan membuat anak tenggelam dalam kekurangannya. Dengan perbedaan itu manusia membutuhkan satu dengan yang lain. Adanya kehangatan didalam lingkungan sekolah ditunjukkan dalam bentuk verbal dan nonverbal. Penyemaian kehangatan berlaku antara Kepala sekolah dan guru, siswa dengan staff di sekolah, orang tua dan setiap individu yang berada di sekolah.
    Pendidikan Inklusi memungkinkan dalam satu kelas/kelompok diisi dengan anak yang berbeda usia, kelas, yang pada akhirnya memungkinkan interaksi. Yang lebih mampu akan membantu anak yang kurang mampu dalam pelajaran.

    Pelayanan ABK bisa dilaksanakan pada jam effektif maupun jam khusus sesudah jam pelajaran, hal yang perlu diingat adalah anak ABK tidak merasa mendapat perlakuan yang "istimewa" bersama dengan anak normal lainnya. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian tugas pada anak yang normal sementara guru memberi layanan pada ABK dan bila dirasa perlu ada Guru Pembimbing Khusus..

    Dalam penyelenggaraan Pendidikan Inklusi langkah-langkah yang kita lakukan adalah :
    1. Penyusunan Program, meliputi :
    - latar Belakang
    - Tujuan
    - Profil Sekolah
    - Visi dan Misi
    - Struktur Organisasi
    - Program Pendidikan yang akan dilaksanakan
    2. Sosialisasi :
    - Seluruh warga sekolah
    - Komite, Tomas, Toga, Instansi terkait.
    3. Identifikasi dan Assesment
    Kegiatan ini bertujuan mengetahui kemampuan dan kekurangan anak pada bidang- bidang tertentu.Kasus-kasus yang pada umumnya ditemukan adalah :
    a. Disleksia-- cacat tubuh
    b. Disgrafia -- kekurangmampuan membaca
    c. Discalculia -- kekurangmampuan berhitung
    d. Gangguan Komunikasi
    e. Slow learner -- lambat belajar
    f Low Vision -- gangguan Pernglihatan
    g. autis dan ADHD ( aktifitas berlebihan )
    Dengan teridentifikasinya anak dengan kekurangan dan kelebihannya guru dapat memberikan layanan sesua dengan kebutuhan anak.
    4. Modifikasi Bahan Ajar

    5. Menyiapkan program Pembelajaran Individual ( P.P.I.)


  • PPI adalah RPP bagi anak ABK yang berisi perkembangan anak dari hari kehari yang didalamnya berisi program jengka pendek, menengah, dan panjang.
    6. Mengelola sekolah Inklufif dengan pembelajaran yang ramah dan PAIKEM.
    Pembelajaran Inklusi sebenarnya sudah kerap kali kita lakukan, cuma kita ytidak menyadarinya. Pemberian penghargaan/reward, pujian, adalah contohnya. Tindakan ini akan memotivasi anak untuk lebih meningkatkan prestasinya.


Gambaran diatas adalah sekelumit tentang bagaimana inklusi disekolah dilaksanakan. Tentu diantara kita ada yang bertanya," mampukah ABK sejajar prestasi dengan anak normal lainnya? Tentu jawabnya 'tidak'.


Lalu bagaimana solusinya?


KKM dan Standart kelulusan kita buat Khusus. Dinas Pendidikan sudah mengupayakan ini. Semoga kedepan bisa ada aturan pelaksanaan yang jelas. Sehingga semboyan 'Educational For All' bisa terwujud.........


Semoga......................

2 komentar:

  1. Ketoro...yen kulino fban
    komen'e kayak wong chating.he..he, yang penting dah kubaca dan kuikuti...bravo P.Wahyu

    BalasHapus